Filosofi2 menit baca
Tunggak Jarak - Jati, Filosofi Inklusi Penguat Potensi Diri
T
Tim Tanm13 Juli 2023 · 36 dibaca
Masyarakat Jawa begitu mendambakan ketentraman, mengedepankan harmoni dan kewibawaan. Untuk mencapai hal tersebut, Orang Jawa menerapkan...
Masyarakat Jawa begitu mendambakan ketentraman, mengedepankan harmoni dan kewibawaan.
Untuk mencapai hal tersebut, Orang Jawa menerapkan pakem yang - hingga kini- selalu di dengungkan, terlebih saat mencari pasangan hidup.
Pakem untuk mendapatkan jaminan kewibawaan adalah "Bibit, Bobot, Bebet"
Pakem ini seolah menjadi wajib dan bagi kalangan tertentu masih di terapkan hingga kini, namun disaat yang sama, orang Jawa juga mengenal peribahasa "tunggak jarak mrajak tunggak jati mati"
Pepatah ini mencoba memberikan "spirit" revolusi dan semangat inklusi yang mewakili keberadaan masyarakat umum.
Masyarakat Jawa kerap menggunakan batang pohon (secara morfologi) untuk di jadikan analogi.
Pohon Jati, misalnya, menjadi metafora "kemapanan" sehingga acapkali kita dengar idiom di masyarakat bawah seperti "sendenan kayu jati" berarti memiliki sandaran ekonomi yang mapan
Dalam peribahasa tunggak jarak mrajak tunggak jati mati dapat kita artikan tunggak pohon Jarak sebagai kalangan orang biasa. Sedangkan tunggak (pohon) jati adalah orang dari kalangan kaya atau pejabat
Dalam terminologi, Tunggak merupakan sisa batang kayu dan akar yang masih tertinggal di dalam tanah sesudah pohon itu ditebang
Pada kenyataannya, Tunggak jarak sebagai representasi wujud sosial kalangan bawah, masih bisa berkembang (mrajak)
Sebaliknya, tunggak jati dari kalangan berpunya yang bertingkah malas-malasan, maka keturunannya bisa jatuh miskin.
Peribahasa "tunggak jarak mrajak tunggak jati mati" [1] mengingatkan bahwa keturunan masyarakat biasa menjadi pejabat sedangkan keturunan pejabat belum tentu memperoleh pangkat.
- Tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati iku tegesé turunané wong cilik dadi wong gedhé, turuné wong gedhé dadi wong cilik.
- Paribasan iki nggambaraké yèn akèh kadadéyan anaké wong gedhé (sugih utawa pangkat dhuwur) sing biasané diugung, banjur dadi kesèd sinau saéngga tembé mburiné malah urip kesrakat.
- Suwaliké, anaké wong sing urip ana ing kaanan prihatin nanging sregep sinau lan temen nyambut gawé, tembé mburiné malah bisa suksès utawa dadi wong gedhè.
Peribahasa Jawa ini menegaskan bahwa keturunan masyarakat biasa bisa menjadi pejabat sedangkan keturunan pejabat bisa tidak memperoleh pangkat.
Seperti di kutip dari Serat Warasewaya [2]
- Ing jaman mengko kulup, nadyan pyayi lan darahing ratu, yen tan pinter utawa nora kasait, nora pati den paelu, arang sinaruwe ing wong.
- Nadyan trah bau dhusun, lamun wasis samubarang kawruh, sugih dhuwit sanggon-ênggon den ajeni, dhasar darajade ruhur, keringan sinembah ing wong.
Maksudnya [2] adalah:
- walaupun priyayi darah raja kalau tidak pandai ya tidak akan dihormati dalam pergaulan,
- walaupun anak dusun, kalau menguasai ilmu, akan kaya dan terhormat.
Referensi
- Andre (2013) Pepatah Jawa Tunggak Jarak Mrajak – Tunggak Jati Mati
- Romo Mangunwijaya (1916) Serat Warasewaya – tembang macapat Gambuh, Surakarta 1916