tanm
Filosofi1 menit baca

Tunggak di Udengi Metafora Manusia & Tipuan Busana

T
Tim Tanm13 Juli 2023 · 19 dibaca

Masyarakat Jawa dikenal memiliki budaya bertutur yang adiluhung. Perbendaharaan kata, pemilihan diksi yang santun menjadi...

Masyarakat Jawa dikenal memiliki budaya bertutur yang adiluhung. Perbendaharaan kata, pemilihan diksi yang santun menjadi ciri otentik bagi karya sastra Jawa. 

Prosa dalam beberapa karya sastra Jawa pun kerap di tulis untuk menyampaikan sesuatu dalam bentuk kiasan. 

Para pujangga pun kerap memakai bagian dari tumbuhan untuk menggambarkan sebuah metafora

Salah satu peribahasa yang paling terkenal adalah Jalma tan kena kinira senajan tunggak di udeng-udengi. 

Jalma dalam hal ini manusia justru di samakan dengan Tunggak yakni sisa batang kayu dan akar yang masih tertinggal di dalam tanah sesudah ditebang

Janma tan kena kinira berarti manusia itu tidak terduga. Keberadaan manusia tidak bisa dinilai hanya dari penampilan luarnya.

Sedangkan Senajan Tunggak di udeng-udengi berarti Batang Kayu yang di beri udeng (ikat kepala) malah sering kali di percaya, artinya "kita kerap tertipu oleh penampilan seseorang" 

Peribahasa diatas seolah menjadi antitesa dari tradisi yang sangat menghormati busana yang dijelaskan filosofi "ajining raga saka busana" [1] (Kehormatan seseorang ditampilkan melalui penampilan/ busana)

Frasa adjektiva pada Tunggak di udengi ini bersifat satir serta menjadi otokritik terhadap kata "ajining raga saka busana" sehingga generasi muda saat ini lebih mawas diri dan tidak mudah tertipu dari penampilan seseorang, padahal isinya kosong alias hanyalah tunggak yang di berikan mahkota. 

Melalui tulisan ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa Generasi muda hendaknya memiliki kemampuan untuk menerima dan menyelami kritik terkait dengan budaya penerimaan seseorang terhadap klaim tunggal sebuah kebenaran. | tofan.ardi@pawinihan

Referensi 
  1. Andi Prayitno, Kamus Peribahasa Jawa