Filosofi2 menit baca
Trahing Kusuma, Metafora Bunga Keturunan Raja
T
Tim Tanm11 Juli 2023 · 38 dibaca
Masyarakat Jawa begitu menghormati keindahan yang ditampakkan oleh Bunga. Dalam bahasa Jawa, Bunga disebut Kusuma, dan...
Masyarakat Jawa begitu menghormati keindahan yang ditampakkan oleh Bunga.
Dalam bahasa Jawa, Bunga disebut Kusuma, dan kerap menjadi metafora untuk menggambarkan keindahan, kemuliaan.
Tradisi Jawa meyakini mitologi Bunga yang relevan untuk menggambarkan sebuah Keindahan adalah Bunga Wijaya Kusuma.
Majas tentang Kusuma kemudian sering dipakai untuk menyamakan sesuatu yang lain atau dikenal dengan kiasan.
Salah satu yang paling terkenal adalah kalimat Trahing kusuma rembesing madu, wijining sutapa, tedhaking andana warih.
Peribahasa metafora ini mencoba memberikan kiasan pada trah (keturunan) Raja (trahing kusuma), yang di dalam dirinya mengalir kualitas prima (rembesing madu)
Ia mempunyai benih keilmuan yang tinggi (wijining tapa), dari keluarga dekat yang mengerti leluhur dan sopan-santun keluarga Raja (tedhaking andana warih).
Jawa begitu mengagungkan Raja, tak hanya sebagai simbol, namun sebagai representasi "pelayan" yang memberikan pengayoman kepada rakyatnya.
Di saat yang sama, syahwat kekuasaan menjadi magnet bagi para dinasti (keturunan raja) untuk meraih status quo
Dengan kata lain, tradisi Jawa hingga kini masih kerap memakai embel-embel "trah" sebagai legitimasi utama [2] untuk menjadi Raja baru atau mendirikan dinasti baru
Trahing kusuma rembesing madu seakan sudah menjadi jaminan bahwa setiap yang lahir dari garis keturunan tersebut pastilah orang yang baik yaitu baik etika, tikah laku, perbuatan, berbudi pekerti, ucapan, moral, akhlak dan adabnya, baik agamanya, baik segalanya.
Tentunya, tak serta merta trah Raja bisa dengan mudah berkuasa, di era demokrasi, siapapun (tak peduli keturunan raja) dapat meraih kekuasaan melalui proses pembuktian empiris (keilmuan, pengalaman, kekayaan)
Keturunan Raja mungkin akan lebih mudah mencapainya, sebab dirinya mempunyai kesinambungan hubungan darah dengan leluhur raja atau dinasti sebelumnya, serta mengalir darah "karakter" Ksatria
Jika bunga dianggap penghasil madu, maka dalam konteks tanaman, kita mengenal benih yang baik. Tradisi Islam mengenal istilah Nasab, yang dapat di maknai serupa dengan trahing kusuma.
Di saat yang sama, masyarakat Jawa yang menganut ajaran Tauhid meyakini bahwa Jodoh, Rezeki, Pati itu ada di tanganNYA.
Padahal jika merujuk pada budaya Jawa, [2] tradisi dalam memilih Jodoh juga merujuk pada pakem "Bibit, Bobot, Bebet"
- Bibit dari latar belakang keluarga
- Bebet bagaimana kualitas keluarganya.
- Bobot seberapa besar kekuatan finansial keluarganya.
Pertanyaannya, apakah trahing kusuma masih relevan dengan kondisi hari ini? ketika setiap orang memiliki hak untuk memilih dan dipilih sehingga menjadi yang terpilih.
Bukankah manusia di takdirkan menjadi makhluk paling mulia karena diberikan pilihan. Wallahu Alam
tofan.ardi@pawinihan
Referensi
-
Prof. Dr. Andrik Purwasito, DE, Suksesi Raja-Raja Jawa, The Cross Cultural Studies
- Nidhon Khoeron, (2017) Menata Hati Sepenuh Cinta