tanm
Warta2 menit baca

Taman Tasik Ardi , Kisah Danau Buatan Mahakarya Sultan

T
Tim Tanm22 Juli 2023 · 12 dibaca

Pesona Taman yang selalu terkait dengan keindahan serta kemegahan menjadi penanda sebuah kejayaan bagi sebuah...

Pesona Taman yang selalu terkait dengan keindahan serta kemegahan menjadi penanda sebuah kejayaan bagi sebuah emperium di nusantara. 

Taman juga menjadi simbol relasi antara agama dan duniawi yang bermakna filosofis bagi si pembangun taman itu sendiri. 

Secara kosmologi, taman identikkan dengan konsep 'paradise' atau 'surga' karena adanya hubungan sakral manusia dengan alam paska kehidupan di dunia [1]

Keberadaan Taman, laksana pelepas dahaga dunia, bukan saja sebagai statue (penanda) melainkan tempat untuk berpelesir, bahkan sebagai lokasi yang mengandung spirit "ruang komtemplasi" yang di percaya mampu menghubungkan penghuni kepada sang dewata melalui meditasi. 

Pada masa pengaruh budaya Islam, pendirian taman tetap dikaitkan dengan kompleks bangunan istana. Sultan Maulana Yusuf yang berkuasa di Banten (1570 – 1580 M) [2] membangun Taman Tasik Ardi

Nama Tasikardi merupakan gabungan dua suku kata dari bahasa Sunda, yaitu Tasik dan Ardi yang artinya Danau Buatan, sedangkan dalam bahasa  Jawa, “Tasikardi”  bermakna “Laut dan Gunung”.

Taman (Danau) Tasikardi sebagai tanda cinta Sultan Maulana Yusuf bagi Sang Ibunda. Ia membangun Tasik Ardi untuk tempat tafakur atau beribadah ibundanya kepada Allah, di sebuah pulau bagian tengah danau bernama Pulau Kaputren.

Dasar dari danau Tasik Ardi terbuat dari ubin batu bata, danau yang memiliki luas area 5 ha dengan kedalaman 1 meter dan airnya bersumber dari Sungai Cibanten(1570 – 1580 M).

Sistem sirkulasi air melalui pancuran berhias, ataupun kombinasi gugusan bangunan peristirahatan dengan gua-gua batu karang. 

Motif hiasan pada bangunan menandai akulturasi tradisi Hindu-Buddha, yakni berupa gunung, awan, serta tumbuhan, hewan yang distilir dengan berlandaskan alam pikiran kosmologis. [3]

Danau Tasikardi berfungsi menampung air dari Sungai Cibanten untuk dialirkan ke Keraton Surosowan melalui pipa yang terbuat dari tanah liat dan berdiameter 2,40 meter.
 
Sebelum digunakan, air disaring dan diendapkan di tempat penyaringan khusus yang disebut pengindelan abang atau "penyaringan merah", pengindelan putih dan pengindelan emas

Saluran pipa tersebut juga melintasi bagian bawah Keraton Surosowan untuk difungsikan sebagai sistem pendingin ruangan.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari,  sisanya digunakan untuk saluran irigasi persawahan yang menggunakan pipa-pipa tanah liat. [3]

Referensi 
  1. Fadhila Arifin Aziz Landsekap Pertamanan: Kajian Atas Data Tekstual. Berkala Arkeologi, 14(2), 27–30
  2. Denys Lombard (1969) Jardin à Java, jurnal Art Asiatiques pada 
  3. Khairul, Taman Tasikardi, Tempat Plesiran sekaligus Irigasi di Kesultanan Banten Sejak Sultan Ageng Tirtayasa, klikread.com,  27/9/2022