Warta4 menit baca
Taman Narmada Petirtaan Suci Mata Air Gunung Rinjani
T
Tim Tanm24 Juli 2023 · 31 dibaca
Taman Narmada, membentang seluas 10 hektare di sebuah Desa bernama Lambuak, Kecamatan Narmada, Lombok bagian...
Taman Narmada, membentang seluas 10 hektare di sebuah Desa bernama Lambuak, Kecamatan Narmada, Lombok bagian barat,
Lanskap taman berundak, dilengkapi dengan petirtaan ini konon dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Lombok.
Pada tahun 1856, seorang naturalis, penjelajah, ahli geografi, antropolog asal Inggris bernama Alfred Russel Wallace tercatat pernah singgah di taman Narmada
- Wallace dalam Malay Archipelago mencatat : [1]
- “Kami melewati Mataram [...] Sepanjang jalan kecil sekitar tiga mil, tibalah kami di suatu tempat. Kami memasuki gapura batu bata yang gagah, dihias dengan dewa-arca dewa-dewa Hindu,”
- “Di dalamnya terhampar dua kolam ikan dan pepohonan elok. Di sisi kanan terdapat rumah dari batu bata dengan gaya Hindu yang terletak di sebuah teras tinggi.
- "Di sisi kirinya sebuah kolam ikan besar dari sungai kecil yang keluar dari mulut buaya raksasa, namun itu sekedar arca.”
Pada 1930-an taman ini menjadi tempat yang tersohor karena keindahannya. Dua taman lainnya di Mataram, Cakranegara dan Lingsar, telah binasa saat penyerbuan serdadu KNIL pada 1894. [2]
Alfred Russel Wallace yang lahir pada tahun 1823 di Monmouthshire, Wales di Britania Raya sangat terkenal dengan Garis Wallace, yakni sebuah garis imaginer yang digambarkan sebagai pemisah fauna Asia dan Austalia.[3]
Saat berada di Lombok, Wallace mencatat garis ini melintang dari selat Lombok ke utara membagi dua laut Indonesia menuju selat Sulawesi.
Garis ini masih menyambung ke selatan dan timur kepulauan Mindanau di Philipina dan berakhir di Pasifik. [3]
Satu abad sebelum Wallace lahir, tepatnya di tahun 1727, pembangunan Taman Narmada dimulai di pimpin sang raja Anak Agung Ngurah Karang Asem
Pembangunan ini bertujuan untuk menyediakan tempat upacara pakelem. Namun, taman ini pun kemudian dijadikan sebagai tempat beristirahat sekaligus tempat khusus bagi raja untuk memuja Dewa Siwa. [4]
Taman yang menjadi replika Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak tersebut didesain oleh arsitek kerajaan sesuai perintah raja agar dapat menghadirkan nuansa Gunung Rinjani ke tengah kota.
Konon katanya, raja semakin tua dan tidak dapat lagi melakukan ritual kurban di puncak Rinjani.
Maka dari itu, Taman Narmada ditata seperti bentuk gunung dengan sumber mata air yang mengaliri tiga kolam pada bagian bawah taman tersebut. [4]
Salah satunya, saat ini menjadi kolam renang alami favorit pengunjung. Keunikan taman ini juga terletak pada keberadaan Pura Kalasa di area atas taman.
Menurut sejarahnya, nama “narmada” tidak lepas dari penghormatan umat Hindu terhadap keberadaan air. Air dianggap sebagai salah satu unsur suci yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Secara etimologi “Narmada” berasal dari “narmadanadi”, yaitu nama salah satu anak Sungai Gangga yang dianggap suci di India.
Awalnya, nama tersebut diberikan kepada salah satu mata air yang membentuk kolam di taman tersebut. Namun, di kemudian hari, “narmada” menjadi sebutan bagi keseluruhan kompleks di tempat ini.
Saat memasuki taman Narmada, kita akan disambut pintu masuk berbentuk gapura. Setelah melewati gapura, kita akan berada di sebuah tempat yang bernama jabalkap. Jabalkap merupakan bagian depan dari Taman Narmada. [5]
Pada bagian ini, terdapat dua kolam kembar. Dahulu, di tempat ini juga terdapat dua bangsal yang berfungsi sebagai tempat penjagaan.
Pada bagian jabalkap, terdapat dua buah gapura lain yang menghubungkan tempat tersebut dengan tempat lain yang bernama mukedes.
Pada bagian mukedes, terdapat bangunan yang pernah menjadi tempat istirahat raja dan permaisurinya. Tempat tersebut dikenal dengan nama balai loji.
Bangunan balai loji secara umum berbentuk seperti rumah, hanya saja memiliki serambi yang terbuka dengan 6 buah pancang, 4 jendela, dan satu pintu di tengah.
Daun pintu dan jendela diberi ukiran-ukiran khas Kerajaan Mataram Lombok.
Masuk lebih ke dalam, di sebelah tenggara mukedes terdapat gapura yang menghubungkan tempat tersebut dengan bagian yang bernama pasarean.
Pada bagian tersebut, terdapat berbagai bangunan, salah satu yang paling menarik adalah bangunan yang bernama balai terang. [5]
Tempat yang dahulu digunakan sebagai tempat tidur raja dan permaisurinya tersebut seratus persen terbuat dari kayu.
Melihat di balik jendela bangunan balai terang, terlihat pemandangan indah seputar Taman Narmada.
Di sisi lain taman, terdapat bangunan bernama balai petirtaan yang sumber mata airnya berasal dari Gunung Rinjani.
Balai Petirtaan juga merupakan tempat pertemuan tiga sumber air, yakni Suranadi, Lingsar, dan Narmada.
Karena mata airnya berasal dari Gunung Rinjai dan tempat pertemuan tiga sumber mata air lainnya, maka air yang ada di Balai Petirtaan dipercaya dapat menjadikan orang yang meminum dan membasuh mukanya dengan air di situ akan awet muda.
Taman Narmada merupakan saksi bisu bahwa di tempat ini pernah ada kejayaan Kerajaan Mataram Lombok.
Referensi
- Alfred Russel Wallace (1869), The Malay Archipelago
- Mahandis Yoanata Thamrin, (2019), Sihir Taman-Taman Pelesiran Ningrat di Nusantara, National Geografic Indonesia
- Zulhakim (2017), Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi, Koran Lombokpost
- Niluh Pingkan Amalia Pratama Putri, Taman Narmada, Replika Gunung Rinjani di Tengah Kota, Detik Bali, 03 Maret 2023
- Menjamahi Narmada, Taman Keluarga Raja di Mataram, Indonesiakaya.com