tanm
Mitologi3 menit baca

Sterquilinus Dewa Pupuk Romawi Gerakan Revolusi Hijau

T
Tim Tanm29 Juni 2023 · 29 dibaca

Dalam mitologi Romawi , Sterquilinus — juga disebut Stercutus dan Sterculius [1] — adalah dewa...

Dalam mitologi Romawi , Sterquilinus — juga disebut Stercutus dan Sterculius [1] — adalah dewa bau . [2]  dan mungkin setara dengan Picumnus . 

Larousse Encyclopaedia of Mythology memberi nama Stercutius, nama samaran Saturnus , di mana yang terakhir digunakan untuk mengawasi pemupukan ladang.

Nama Sterquilinus berasal dari bahasa Latin stercus yang berarti "pupuk" atau "pupuk kandang". Seorang editor dari An Encyclopædia of Plants , yang diterbitkan pada tahun 1836, menceritakan hal itu [3] 

Sterculius adalah dewa jamban, dari stercus , kotoran.[4]  Telah diamati dengan baik oleh seorang penulis Prancis, bahwa orang Romawi, dalam kegilaan paganisme, dianggap selesai dengan mendewakan objek yang paling tidak sopan dan tindakan yang paling menjijikkan.

Nama ini kemudian diubah untuk menghindari kebingungan sebab para filsuf modern menganggap pemujaan terhadap kotoran sangatlah tidak tepat [3]  

Para penduduk desa yang mengedepankan sektor agraris itu cenderung menyakini keberadaan Dewa yang mengawasi dasar-dasar pemupukan organik. 

Maka Sterquilinus diyakini menjadi dewa yang mengajarkan penggunaan pupuk kandang dalam proses pertanian. [3]

Bangsa Romawi awal adalah peradaban agraris dan, secara fungsional, sebagian besar jajaran dewa asli mereka - berbeda dengan yang kemudian mereka sesuaikan dengan stereotip Yunani - bersifat pedesaan dengan tokoh-tokoh seperti Pomona , Ceres , Flora , Dea Dia 

Peradaban Romawi mengenalkan Pupuk Kandang dan Pupuk Kompos sebagai pusaka untuk meningkatkan produktifitas pertanian. Apa yang kini kita sebut pupuk hijau, bagi Bangsa Romawi [5] adalah tanaman yang ditanam setelah tanaman utama dipanen.

Mereka diintegrasikan ke dalam tanah sebelum tanaman baru ditanam. Pupuk hijau juga dapat ditanam sebagai penutup tanah, menanam tanaman utama di bawahnya. Pemilihan jenis tumbuhan berdasarkan panen tahunan yakni tanaman yang tumbuh cepat. [5]

Pupuk hijau telah digunakan sejak jaman dahulu. Naturalis Romawi, Gaius Plinius Secundus (24 – 79AD) menulis dalam Natural History -nya :

'Namun, secara universal disepakati bahwa tidak ada pupuk kandang yang lebih bermanfaat daripada tanaman lupin yang dibalikkan dengan bajak atau dengan garpu sebelum tanaman membentuk polong, atau kumpulan lupin setelah dipotong, digali di sekitar akar tanaman. pohon dan tanaman merambat. Dan di tempat-tempat di mana tidak ada ternak, mereka percaya menggunakan tunggul itu sendiri atau bahkan pakis untuk pupuk kandang' (Buku XVII)"

Pupuk hijau menekan gulma, membantu menjaga kesuburan tanah, dan mencegah erosi. Tanaman yang digunakan sebagai pupuk hijau memiliki karakteristik yang berbeda dan dapat dipilih untuk mengatasi masalah yang spesifik pada lahan tertentu.

Beberapa, seperti phacelia, sangat bagus dalam menarik serangga yang bermanfaat. Lainnya, seperti alfalfa, memiliki akar dalam yang memperbaiki struktur tanah dan membawa nutrisi ke permukaan. [5]

Namun yang lain, seperti mustard, membantu memerangi hama dan penyakit tertentu. Terlebih lagi, seperti tumbuhan dari keluarga kacang-kacangan, memperkaya tanah dengan nitrogen.

Pupuk hijau yang paling umum digunakan adalah phacelia, mustard, gandum, kacang, buncis dan kacang polong, semanggi, alfalfa dan soba.

Gerakan Revolusi Hijau yang menekankan pada penggunaan pupuk Organik (Kompos dan Kandang) ini juga terus perkenalkan dengan mengurangi penggunaan pupuk Kimia.

Di Trenggalek, kini mulai mengadopsi kebiasaan pertanian organik. Para petani yang telah selesai memanen Padi, kini tak lagi membakar tunggul padi (damen) namun memangkas sebagian untuk dijadikan pakan ternak, dan sisanya di biarkan di lahan agar menjadi kompos dan di campur kotoran ternak. [6] 

Penggunaan Pupuk Kandang dan Pupuk Hijau ini di fermentasi terlebih dahulu, sehingga hasilnya lebih maksimal, caranya dengan menyemprotkan bakteri pengurai pada lahan pertanian sebelum masa tanam

Agar mendapatkan hasil maksimal, petani di Trenggalek juga menambahkan kotoran sapi yang telah kering untuk di implementasikan pada lahan pertanian. [6] | tofan@pawinihan

Referensi : 
  1. Smith, William (1858), Entry, "Sterculius, Stercutius, or Sterquilinus",, A Classical Dictionary of Biography, Mythology and Geography , edisi revisi ke-4; London: John Murray , hal 725.
  2. Carter, W. Hodding (2006), Flushed: How the Plumber Saved Civilization; Simon and Schuster, hal 143.
  3. "STERCULIUS - the Roman God of Manure (Roman mythology)".
  4. Loudon, John Claudius (1836), editor, An Encyclopædia of Plants ; London: Longman, Rees, Orme, Brown, Green, and Longman, halaman 815. Kutipan ini diambil dari bagian genus tumbuhan Sterculia .
  5. Gaius Plinius Secundus, Jurnal Naturalis Historia, 24 – 79 SM
  6. Azwar Rahmatullah (2014), Trenggalek Go Organik