Mitologi2 menit baca
Serat Calon Arang, Pusaka Mpu Bahula Tanam Angsoka
T
Tim Tanm23 Juli 2023 · 25 dibaca
Dalam Naskah Calon Arang disebutkan bahwa Mpu Bharada memerintahkan muridnya melakukan revolusi hijau dengan melakukan...
Dalam Naskah Calon Arang disebutkan bahwa Mpu Bharada memerintahkan muridnya melakukan revolusi hijau dengan melakukan kegiatan penanaman besar besaran.
Hal ini dilakukan untuk melawan Calon Arang yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit.
Terkait serat Calon Arang, hingga kini tak ada yang tahu pasti siapa yang menulisnya. Hingga kini, kisah folklor Calon Arang masih di percaya di tanah Jawa (terutama di karesidenan Kediri )
Salinan teks Latin naskahnya berada di Belanda, yaitu dalam Jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 82 (1926) halaman 110-180.
Dalam serat Calon Arang, diceritakan bahwa Calon Arang adalah seorang janda penguasa ilmu hitam yang memiliki seorang puteri bernama Dyah Ayu Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya.
Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda.
Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia, wabah penyakit juga muncul.
Untuk mencegah ilmu hitam menyebar di Kediri, maka Empu Bharada memerintahkan muridnya untuk melakukan penghijauan [1]
Sang murid yakni Mpu Bahula kemudian menanam tumbuh-tumbuhan seperti angsoka, nagasari, melati, gambir, kembang sepatu, pacar cina di sekeliling pertapaan
Nama Angsoka menjadi tumbuhan yang memiliki filosofis hingga kelak dikemudian hari putra Mpu Bahula yakni Mpu Tantular menyandang gelar Dahyang Angsokanata
Angsoka atau jarum-jaruman dikenal pula dengan sebutan kisoka, atau kikopi leutik (Sunda.).[2]
Tanaman ini dikenal multifungsi, dapat berguna sebagai tanaman obat, tanaman hias dan pagar, juga berfungsi sebagai pupuk hijau. [3]
Kisah Calon Arang ini diyakini terjadi pada masa Airlangga, ketika Kerajaan di Jawa mulai berubah menjadi masyarakat Agraris yang ditandai perubahan pola bercocok tanam dari nomaden menjadi menetap
Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa Raja Airlangga yang banyak membuat waduk [4] untuk mengairi sawah dan ladang, sangat memperhatikan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyatnya
Pada prasasti Kamalagyan [5] di kisahkan Raja Airlangga membangun sistem irigasi pertanian. isi dari prasasti ini menyebutkan sebuah bandungan (dam) di Wringin Sapta oleh dibangun Raja Airlangga (Raja dari Kahuripan) bersama rakyat.
Referensi
- Poerbatjaraka, 1982; Richadiana, 1990
- Sabara, Edith; Sopian (Februari 2011). 100 Tumbuhan Dilindungi di Gede Pangrango. (Tanpa kota): TNGGP bekerjasama dengan Green Radio. hal.60. ISBN 978-602-98815-0-9.
- Sastrapradja, Setijati; Bimantoro, Rahadian (1983). Tanaman Pagar. 26: 34 – 35. Jakarta: LBN - LIPI bekerjasama dengan Balai Pustaka.
- Fadhila Arifin Aziz, Landsekap Pertamanan: Kajian Atas Data Tekstual, Berkala Arkeologi, 14(2), 27–30.
- Armeson Diga Sandi (2015), Prasasti Kamalagyan 1037M "Banjir Sungai Brantas Masa Raja Airlangga Abad XI"