tanm
Mitologi2 menit baca

Sawo Kecik, Simbol Perlawanan Pengikut Diponegoro

T
Tim Tanm8 Juni 2023 · 32 dibaca

Dalam Mitologi Jawa, Pohon Sawo Kecik kerap dikaitkan dengan Akronim sarwa becik atau serba baik....

Dalam Mitologi Jawa, Pohon Sawo Kecik kerap dikaitkan dengan Akronim sarwa becik atau serba baik. Tak mengherankan bila di lingkup keraton seperti Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, jamak kita jumpai pohon ini, bahkan keberadaannya disejajarkan dengan pohon beringin, asam, dan gayam karena ketiganya juga memiliki makna baik menurut adat Jawa.

Di Keraton Yogyakarta, kita bisa menemukan pohon sawo kecik di halaman belakang. Ini sebagai penanda lokasi, bahwa di masa penjajahan, banyak pejuang yang berkumpul di bawah pohon ini. Mereka menyamar sebagai Abdi Dalem, lengkap dengan pakaian khasnya demi mengelabui Belanda.

Syahdan, Penangkapan Pangeran Diponegoro pada Maret 1830 menandai akhir Perang Jawa yang berlangsung sejak 1825. Drama penangkapan yang penuh intrik di internal keraton ini juga menadai dominasi Pemerintah Hindia Belanda di Tanah Jawa. 

Pangeran Diponegoro pun diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Sementara para pengikutnya, tercerai berai. Dalam taktik strategi gerilya ini, para pengikut Diponegoro memilih untuk menanam pohon sawo kecik di sisi kediamannya sebagai penanda bahwa mereka masih memiliki perjuangan yang sama.

Pemilihan pohon Sawo bukan tanpa alasan, sebab di rumah eyang buyut Pangeran Diponegoro, yakni di Tegalrejo, konon banyak tumbuh pohon sawo kecik. Selain sawo kecik, sebenarnya ada pohon lain yang jadi penanda pasukan Diponegoro, yakni pohon kemuning dan kepel.

Bukti Perjuangan Diponegoro dapat kita liat di 'Masjid Pathok Negara' Ploso Kuning, Sleman Yogyakarta, pohon sawo kecik raksasa masih menjulang tinggi. Masjid yang dahulunya menjadi salah satu tempat mengaji Pangeran Diponegoro ketika menjadi santrai Kiai Mustofa yang mengasuh pondok tersebut. Pohon sawo itu masih bisa dilihat sampai sekarang (lihat foto di atas).

''Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Pohon sawo tampaknya digunakan sebagai 'perlambang' (isyarat) dari perintah untuk taat meluruskan shaf ketika hendak shalat: sawwu shufufakum (luruskan shafmu)' kata peneliti dunia pesantren di kawasan selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi. [2] Sedangkan sawo kecik itu dmemberi pesan setelah meluruskan shaf (bersatu membentuk jaringan) jadilah orang yang 'becik' (baik).

Fahmi menceritakan, sebagai seorang kiai ayahnya selalu menasihatkan, dengan mengutip kalimat tersebut terutama ketika anak-anak selalu ribut saat akan shalat berjamah."Kata Ayah saya, ingat di depan masjid kita ada pohon sawo. Jadi, segera laksanakan shalat ketika kamu dengar imam memberi perintah luruskan atau rapikan Shafmu."

Cicit Pangeran Diponegoro atau kiai yang berdarah bangsawan keraton Yogyakarta yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di wilayah ini adalah KH Muhammad Ilyas dan KH Abdul Malik (di Sokaraja), KH Badawi di Kesugihan, KH Masurudi (di Baturaden Purwokerto). [2]

Bila demikian, wajar bila banyak pesantren tua yang ada di berbagai pesantren tua banyak di tanam pohon jenis sawo biasa atau sawo kecik yang ternyata itu isyarat adanya jaringan ulama. 

Dan dulu para kiai kerapkali memang menyuruh santrinya menanam pohon ini ketika hendak menamatkan masa pendidikannya. Sawo kecik dipilih selain buahnya manis karena juga punya sinonim dalam bahasa Jawa: sarwo becik (serba baik).

Referensi 
  1. Kharisma Ghana Tawakal, Mengapa Sawo Kecik Banyak Ditanam di Keraton? inibaru.id, 4 Maret 2022
  2. Pohon Sawo Kecik dan Isyarat Jaringan Pengikut Diponegoro, Algebra. Republika, 12 Januari 2022