tanm
Toponimi3 menit baca

Samida, Pusaka Konservasi Hutan Larangan Pajajaran

T
Tim Tanm10 Juni 2023 · 22 dibaca

Samida, kini tak hanya menjadi pembicaraan di kalangan arkeologi dan pemerhati sejarah, namun para pemerhati...

Samida, kini tak hanya menjadi pembicaraan di kalangan arkeologi dan pemerhati sejarah, namun para pemerhati dendrologi juga semakin intens mempelajari makna kata "Samida" yang tertulis pada Prasasti Batutulis.  

Prasasti Batutulis, baris ketujuh menyiratkan tatanan lingkungan, “yang menyuburkan seluruh permukiman.” Bandingkan dengan,”membuat tanda peringatan (berupa) gugunungan, memperkeras jalan, membuat samida, membuat Sang Hiyang Talaga (Wa)rna Mahawijaya,”  [1]

Rachmat Iskandar, pengamat sejarah dan penggiat cagar budaya  mengatakan pada hakekatnya, baik pada Prasasti Kawali Satu maupun Prasasti Batutulis ada upaya membangun kawasan atau lingkungan yang subur, ada air, hutan yang hijau, dan penataan sarana jalan [1] 

Prasasti Kawali, lanjut Rachmat, ditulis lebih dulu dari Prasasti Batutulis. Ketika Ibu Kota Kerajaan Sunda masih di Ciamis— sebelum pindah ke Bogor (Pakuan). Di sana dibuat prasasti oleh raja pendahulu Prabu Surawisesa dengan susunan kalimat yang mirip. Prasasti Kawali Satu berisi:

Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau yang Mulia, (bernama) Prabu Braja Wastu, (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah Kraton Surawisesa, yang (menggali) membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang menyuburkan seluruh permukiman, kepada yang akan datang hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan (ke) menang (an) hidup di dunia.”    

Menurut Naskah Sunda Kuno, yang ditulis pada 1518, pada masa Kerajaan Pajajaran, Sanghyang siksakandang karesian, menjaga kelestarian dan keasrian alam nan subur sangat penting bagi kehidupan masyarakat. [1]  “Ini jalan kita untuk menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil, rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara. Lama hidup, selalu sehat. Sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan: rumput, pohon-pohonan, rambat, semak, hijau subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya, itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan, namanya.”  

Samida yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis— yang tercantum dalam jajaran kalimat memelihara lingkungan– merupakan pohon atau pepohonan yang harus dipelihara, tidak boleh sembarangan menebang atau merusak pohon ini. Pada masa Pajajaran sebutan hutan larangan (dengan dikeramatkan dan pamali) disematkan pada Samida, sebuah hutan yang -di era sekarang- diistilahkan sebagai hutan konservasi. [1]

Peneliti tumbuhan senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Usep Soetisna, menuturkan Pohon Samida adalah pohon Plasa atau Palasa (dalam Bahasa Sunda) dan Ploso (dalam Bahasa Jawa), bernama latin Butea monosperma. [2]

Pohon Samida (Butea monosperma)  ini pun erat kaitannya dengan upacara keagamaan dan disebutkan bahwa pohon ini banyak digunakan oleh pemeluk agama Hindu untuk upacara-upacara keagamaan. [3] 

Daun Pohon Butea monosperma berwarna hijau muda, berbentuk membundar, dengan serat daun terlihat indah menyebar, transparan berpendar hijau terang.  Jika terkena sinar matahari, bunganya berbentuk membungkuk dan mengantung dengan ujung naik yang lancip, berwarna merah menyala seperti lidah api.  [2]

Pohon ini juga kerap disebut juga Flame of the Forest, Api Hutan. [1] Kayu dari pohon Samida cocok dan biasa digunakan sebagai pembakar mayat. Selain itu, bisa jadi karena bentuk bunganya seperti lidah api, pohon ini juga dikaitkan dengan upacara kepada Dewa Agni, dewa api dalam kepercayaan Agama Hindu. 

Pohon Samida bila ditilik dari akar pohonnya yang besar dan banyak menghujam tanah, pohon ini juga cocok untuk menyerap dan menangkap air.

Kebun Raya Bogor— begitupula dengan Ibu Kota Pajajaran— terletak di antara (diapit) oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane. [1] Mengingat lokasi ini dan kontur Bogor, maka konservasi menjadi sangat penting. melihat bahwa posisi strategis Samida sebagai hutan buatan, karena Kota Pajajaran diapit oleh dua Sungai Ciliwung dan Cisadane tersebut. 

“Raja-raja Sunda sudah melakukan pembangunan-pembangunan, modifikasi-modifikasi terhadap lingkungan alam. Jadi, ada sesuatu yang dibuatkan konstruksinya, ada lingkungan alam yang kemudian dimodifikasi. Kenapa dia melakukan modifikasi? Karena untuk menghindarkan pusat kerajaan dari bahaya banjir,” kata Lutfi. [1] 

Referensi 
  1. Ardi Bramantyo, Berjumpa Samida: Jejak Konservasi Pajajaran di Kebun Raya (Diduga) Tertua di Dunia, sama.id - 3 Agustus 2020
  2. Windiyati Retno Sumardiyani, Makna Samida dalam Prasasti Batutulis, Jadi Peninggalan Terakhir Kerajaan Pajajaran, Pikiran Rakyat, 21 Januari 2020, 
  3. PROSEA, Plant Resources of South-East Asia 3, Dye and tannin-producing plants.