tanm
Riset3 menit baca

Riset Yale University, Anomali Cuaca Dunia Turunkan Emisi GRK

T
Tim Tanm9 Juli 2023 · 10 dibaca

Sebuah studi dari para ilmuwan di Universitas Yale melakukan jajak pendapat terhadap 91.000 orang di...

Sebuah studi dari para ilmuwan di Universitas Yale melakukan jajak pendapat terhadap 91.000 orang di 89 negara di lima benua untuk mendeteksi perubahan iklim yang mempengaruhi rata-rata suhu lokal 

Penelitian ini menemukan bahwa opini publik tentang anomali cuaca dapat berubah sebagai respons terhadap pengalaman pribadi tentang perubahan iklim.

Manusia di seluruh dunia mengamati dan secara akurat mendeteksi perubahan iklim lokal mereka, menurut sebuah studi baru yang dipimpin oleh para peneliti Universitas Yale.

Temuan ini memberikan bukti bahwa secara global, fenomena tersebut dapat memberikan implikasi yang berarti untuk upaya memerangi perubahan iklim

Kami ingin melihat apakah orang-orang mampu mendeteksi sinyal perubahan iklim melalui pengalaman lokal mereka sendiri,” kata Peter D. Howe, rekan pascadoktoral di Yale [1]

Kami menemukan bahwa banyak yang memperhatikan perubahan lokal, yang dapat memengaruhi respons publik terhadap perubahan iklim di tahun-tahun mendatang.” ujarnya

Jurnal ini diterbitkan di Nature Climate Change, yang merujuk pada survei yang dilakukan Gallup World Poll terhadap sekitar 91.000 orang di 89 negara di lima benua.

Mereka ditanya: "Selama lima tahun terakhir, bagaimana tanggapan Anda terhadap suhu tahunan rata-rata di daerah Anda? apakah menjadi lebih hangat, lebih dingin, atau tetap sama?

Para peneliti di Universitas Yale, Columbia, dan Princeton kemudian mencocokkan jawaban survei dengan data tentang kondisi iklim lokal responden. [1]

Para peneliti menemukan bahwa persepsi cenderung sesuai dengan kenyataan — orang-orang yang melaporkan bahwa daerah mereka menjadi lebih hangat memang mengalami suhu selama 6 hingga 12 bulan sebelumnya yang relatif lebih tinggi

Studi ini juga menemukan bahwa persepsi responden dipengaruhi oleh cuaca terkini, dan mayoritas responden mengatakan bahwa daerah mereka semakin dingin atau tetap sama.

Perubahan iklim memicu anomali cuaca sehingga di sejumlah tempat di menjadi lebih panas dan bahkan menjadi lebih dingin dari biasanya. 

Jika disurvei selama musim hangat lokal, sebanyak 11 - 19 persen lebih mungkin untuk percaya bahwa suhu lokal meningkat dalam jangka panjang daripada saat ditanyai selama periode dingin.

Penelitian juga membandingkan efek geografis, demografis, dan musiman sehingga di temukan peningkatan suhu 1 derajat Celcius di atas rata-rata lokal. 

Dalam kurun waktu tertentu, hal ini dikaitkan dengan peningkatan 7 hingga 12 persen, bahwa orang akan melaporkan bahwa suhu  daerah mereka menjadi lebih hangat.

Makalah tersebut muncul di Nature Climate Change pada bulan Desember. Gallup World Poll dilakukan pada tahun 2007 dan 2008.

Kini hasil penelitian ini menjadi rujukan berbagai pihak sebab berdasarkan Keputusan 1/CMA.3 di Glasgow pada Alinea 29, yang mengamanatkan bahwa setiap negara diminta untuk meningkatkan target NDC sebagai upaya agar selaras dengan skenario mencegah kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celcius. [2] 

Secara bertahap, target penurunan emisi GRK oleh Indonesia [2] akan sejalan dengan kebijakan jangka panjang Long-term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR 2050) menuju net-zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Target penurunan emisi GRK Indonesia [2] dengan kemampuan sendiri pada Updated NDC (UNDC) sebesar 29% meningkat ke 31,89% pada ENDC, sedangkan target dengan dukungan internasional pada UNDC sebesar 41% meningkat ke 43,20% pada ENDC.

Referensi: 
  1. DOI: 10.1038/nclimate1768 | “Persepsi global tentang perubahan suhu lokal” Riset oleh Peter D. Howe, Ezra M. Markowitz, Tien Ming Lee, Chia-Ying Ko dan Anthony Leiserowitz
  2. Enhanced NDC: Komitmen Indonesia Untuk Makin Berkontribusi Dalam Menjaga Suhu Global, Siaran Pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan