Riset2 menit baca
Prasasti Talang Tuo, Taman Sri Ksetra Kerajaan Sriwijaya
T
Tim Tanm21 Juli 2023 · 22 dibaca
Tumbuhan Pinang dan beberapa tanaman palma lainnya disebut pada Prasasti Talang Tuo dari era 684...
Tumbuhan Pinang dan beberapa tanaman palma lainnya disebut pada Prasasti Talang Tuo dari era 684 Masehi peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.
Prasasti bertarikh 606 Saka atau 684 Masehi ini dipahatkan pada batu datar berukuran 50 cm x 80 cm, didalamnya memuat informasi penting, salah satunya tentang pembangunan Taman Sri Kṣētra
Secara etimologi, Sri Kṣētra dapat diartikan sebagai tanah kemenangan (land of glory), Taman Agung atau ada juga literatur yang menyebutkan Pemandangan yang indah
Sang Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya memerintahkan para bawahannya untuk membangun taman yang di dalamnya berisi ragam misalnya kelapa, pinang, aren, sagu, dan pepohonan yang buahnya bisa dimakan. Ada pula bambu, haur, vuluh, , pattum, pepohonan lainnya [1]
Hal ini menjadi bukti bahwa pemahaman tentang ekologi telah dikenal sejak dahulu dengan mempertimbangkan aspek kelestarian alam serta upaya konservasi keanekaragaman hayati di bumi Sriwijaya
Prasasti Talang Tuo [2] mengungkapkan bahwa Kerajaan Sriwijaya tengah berkonsentrasi untuk memakmurkan negerinya, dan pusaka ekologi yang di pilih adalah tanaman Palma
Upaya sang raja ini diwujudkan dengan membangun kebun (parlak), waduk (tavad) dan Telaga (talaga). [3] Dalam bahasa Melayu modern merujuk pada perbuatan menghalangi sebuah badan air untuk menciptakan kolam.
Beberapa tanaman ini memang cukup subur bila ditanam di tepian sungai atau pesisir. Dan argumen ini cukup beralasan serta di dukung oleh letak penemuan prasasti yang diduga merupakan wilayah pusat kedatuan Sriwijaya, di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan.
Isi dari parasasti Talang Tuwo tentang keberadaan tanaman Palma [4] :
- swasti . sri saka warsa tita . 606 . ding dwitiya suklapaksa wulan caitra . sana tatkalana parlak sri Kṣētra ini . niparwuat
- parwanda punta hiyang sri jayanaga. ini pranidhananda punta hiyang sawanakna yang nitanang di sini niyur pinang hanau ru
- Mviya dnan samisrana yam kayu nimakan vuahna. Tathapi haur vuluh pattum ityevamadi. Punarapi yam parlak vukan;
Artinya:
- Selamat sejahtera! Pada hari kedua paroterang, Bulan Caitra, Tahun 606 Saka, saat itulah taman (yang bernama) Sri Ksetra ini dibuat.
- Punta Hyam Sri Jayanasa wujud pranidhana Punta Hiyam, (dan) hendaknya semua tanaman yang telah ditanam di taman Sri Ksetra ini seperti kelapa, pinang,
- Aren, dan sagu serta jenis-jenis pohon bambu, seperti bambu haur, bambu (wuluh), dan bambu betung dan sejenisnya. Termasuk pula taman-taman, bendungan- bendungan,
Sang Baginda Sri Jayanasa telah menginisiasi pembangunan Taman Sri Ksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi yang diperuntukkan bagi semua makhluk hidup (manusia, satwa dan tumbuhan). [4]
Tujuan pembangunan Taman Sri Ksetra adalah demi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh makhluk hidup di bumi Sriwijaya sehingga masyarakat sejahtera dan tentram [4]
| tofan.ardi@pawinihan
Referensi:
- Slamet Mulyana, dalam Jurnal Sriwijaya ( saat di temukan 14 baris dapat di terjemahkan oleh van Ronkel dan Bosch)
- Asiah, Nur. (2009). Ensiklopedia Peninggalan Bersejarah Indonesia. Jakarta: Mediantara Semesta.
- Pierre-Yves Manguin, “Palembang dan Sriwijaya” , Kedatuan Sriwijaya
- Sholeh, 2017; Rezeki 2020