Riset3 menit baca
Prasasti Batu Bapahat, Adityawarman Bangun Taman Sri Surawasa
T
Tim Tanm22 Juli 2023 · 19 dibaca
Raja Adityawarman (1345 -1375 M) yang berkuasa di Sumatera Barat pernah membangun taman (hutan) yang...
Raja Adityawarman (1345 -1375 M) yang berkuasa di Sumatera Barat pernah membangun taman (hutan) yang indah di dekat Saruaso.
Saruaso kini merupakan nagari yang terletak di dekat Batusangkar, ibu kota kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Nagari ini dulunya kemungkinan menjadi ibu kota bagi kerajaan Malayapura yang didirikan oleh Adityawarman
Saruaso atau Suruaso berasal dari kata Suruwasan yang merupakan gelar dari sang Adityawarman.
Kisah pembangunan taman agung ini tercatat pada Prasasti Bandar Batu Bapahat yang menggunakan bahasa Sanskerta dan Tamil.
Prasasti Bandar Bapahat atau yang juga di sebut prasasti Saruaso ini ditemukan di jorong Bukik Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Tanah Datar, Sumatra Barat.
Lokasi penemuannya, kira-kira 1 km dari Saruaso di sebuah pengairan menembus bukit yang dipahat, jaraknya hanya sekitar 2 meter dari tepi Batang Selo, dan pada bahagian kiri dan kanan saluran irigasi [1]
Prasasti tersebut berisi tulisan di kedua sisi dinding batu saluran air kuno, yang diperkirakan dibuat pada masa pemerintahan Raja Adityawarman.[2]
Dalam prasasti ini di sebutkan, Raja Adityawarman sudah memanfaatkan sungai Batang Selo untuk kemakmuran masyarakat. Kemakmuran daerah ini pada saat ini sebagai lumbung padi di masyarakat masa Adityawarman [2]
Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman Nandana Sri Surawasa [3] yang senantiasa kaya keanekaragaman hayati
Hutan Nandana Sri Surawasa ini diduga terletak tidak Jauh dan Batu Sangkar (Pagaruyung) ditanamI tanaman yang berbau harum seperti melati (Jasmin) dan ketaka (Pandanus odoratissimus), buah-buahan seperti kelapa, mempelam, dan Jambu. [4]
Ditengah-tengah taman terdapat kolam dengan bunga terataI berwarna merah (padma), putih (kumuda) , dan ternpat mandi dengan pancuran air
Irigasi untuk mengaliri Taman ini sebelumnya dibuat oleh pamannya yaitu Akarendrawarman yang menjadi raja sebelumnya, sehingga dapat dipastikan sesuai dengan adat Minangkabau, pewarisan dari mamak (paman) kepada kamananakan (keponakan) telah terjadi pada masa tersebut.[5]
Kepedulian Adityawarman untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakatnya sangat terlihat dari kebijakan yang diambil, warga diharapkan tidak bergantung kepada hasil hutan dan tambang saja melainkan memaksimal fungsi irigasi untuk mengairi perkebunan dan pertanian.
Adityawarman merupakan penerus dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang sebelumnya beribu kota di Dharmasraya
Adityawarman dalam Pararaton [6] merupakan putra dari Adwayadwaja perwira singosari pemimpin ekspedisi Pamalayu bergelar nama Mahisa Anabrang ,dari hasil pernikahan dengan Dara jingga putri Dharmasyaya.
Beliau merupakan bangsawan berdarah Singhasari Malang (Jawa timur) - Dharmasraya (Sumatera Barat)
Manuskrip mencatat pengukuhan beliau menjadi penguasa di Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa,[7]
Di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau dan bergelar Surawasan [4]`
| tofan.ardi@pawinihan
Referensi
- Anom, I. G. N.; Sugiyanti, Sri; Hasibuan, Hadniwati (1996-01-01). Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I. Direktorat Jenderal Kebudayaan.
- Nurmatias (Makam Tuanku Indomo), Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat
- Casparis, J.G., (1990), An ancient garden in West Sumatra, Kalpataru, 40-49.
- Fadhila Arifin Aziz, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Landsekap Pertamanan: Kajian Atas Data Tekstual. Berkala Arkeologi, 14(2), 27–30
- Kozok, Uli, (2006), Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-603-6.
- Mangkudimedja, R.M., (1979), Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta, Departemen P dan K, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
- Kern, J.H.C., (1907), De wij-inscriptie op het Amoghapāça-beeld van Padang Candi(Batang Hari-districten); 1269 Çaka, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde.