Mitologi4 menit baca
Pohon Upas, Vegetasi Beracun Asal Jawa
T
Tim Tanm9 Juli 2023 · 14 dibaca
Sebuah Buku: berjudul The travels of Friar Odoric mencatat perjalanan yang mengerikan di Nusantara. Sang...
Sebuah Buku: berjudul The travels of Friar Odoric mencatat perjalanan yang mengerikan di Nusantara. Sang penulis, yakni Odorico da Pordenone, seorang pendeta Ordo Fransiskan dan penjelajah terkenal Abad Pertengahan menceritakan serombongan pengembara yang tengah berteduh di bawah sebuah tanah lapang.
Tak perlu menunggu lama, salah satu dari mereka jauh mati begitu saja. Mengetahui kawannya mati, anggota rombongan lain langsung tunggang langgang. Selamat? Tidak juga, mereka akhirnya jatuh satu persatu dan mati.
Sejak kunjungan Odoric di abad ke-14 itu, cerita seram tentang pohon beracun tersebut terus menerus direproduksi dan ditambah-tambahi. Kisah seram itu bertahan hingga beratus-ratus tahun kemudian. [1]
Kisah seram ini lantas mendapatkan justifikasi dari seorang botanis Belanda kelahiran Jerman, Rumphius [2] yang menulisnya dengan cara yang berlebihan.
“Udara di sekitar pohon begitu tercemar sampai-sampai jika ada seekor burung hinggap di dahan pohon, burung itu akan langsung kehilangan kesadaran dan jatuh mati,” tulis Rumphius. [2]
Saat berada di Ambon, Rumphius, menulis bahwa penduduk Makassar tahun 1650 menggunakan panah beracun saat penyerangan terhadap Ambon. Panah beracun ini pula yang digunakan rakyat Celebes saat perang melawan VOC Belanda.
"Racun yang masuk pembuluh darah terbawa ke seluruh tubuh dan terasa di otot, menimbulkan rasa terbakar, terutama di kepala, lalu korban pingsan dan mati. Menurutnya, racun ini memiliki derajat mematikan berbeda, tergantung lama dan cara pengawetan racun." tulisnya
Dan racun yang paling mematikan adalah ‘upas raja’ yang konon efeknya tak terobati lagi.
Buku The Botanic Garden yang ditulis Erasmus Darwin [3] meromantisasi dengan hiperbolis bahwa pohon upas sebagai pohon keramat yang melahirkan monster-monster pengusung kematian. Ya, itu adalah Pohon Upas.
Seorang orientalis, linguis, numismatis, dan perintis dalam studi ilmiah mengenai Indonesia bernama William Marsden [4] menyebut Upas di antara tanaman yang paling menarik ada di Jawa.
Lelaki kelahiran 16 November 1754 di County Wicklow, Irlandia ini menyamakan mitos tentang Pohon Upas sama dengan mitos-mitos Lerna Hydra, Chimera dan kisah-kisah klasik lainnya.
Dalam penelitiannya, dia menyimpulkan pohon yang menghasilkan racun ini adalah pohon Anchar, yang tumbuh di bagian timur Pulau Jawa.
Achar adalah salah satu pohon terbesar di Jawa, bentuknya silindris, tegak lurus dan memiliki tinggi 60-80 kaki. Di permukaan tanahnya terdapat kumpulan tanaman yang tersebar tak beraturan menjadi beberapa bagian atau kelopak, seperti Cannarium commune atau pohon kenari.
Pohon ini ditutupi kulit kayu berwarna keputihan dengan kerut memanjang. Sementara itu di dekat tanah, kulit kayu dewasa bisa memiliki tebal hingga 0,5 inchi dan menghasilkan cairan seputih susu yang mengandung racun.
Torehan pada kulit kayu akan menghasilkan cairan kekuningan agak berbuih pada pohon dewasa, sedangkan pada pohon muda warnanya lebih putih. Cairan ini dihasilkan di batang di mana alirannya cukup deras hingga satu cangkir bisa dikumpul dalam waktu singkat.
“Tulisan Rumphius [4] yang merujuk keterangan tentang upas yang dinamakan arbour toxicaria. Pohon ini tidak tumbuh di Ambonia sehingga keterangan itu didapatkannya dari Makassar, yang dimaksudnya adalah cabang dari pohon laki-laki (male tree) yang dikirim ke Makassar hingga dianggap pohon dari Makassar,” tulis Marsden.
Ia melanjutkan, cairan buah arbour toxicaria tidak berbahaya serta bukan Anchar Jawa, dan bentuknya berbeda dan lebih menyerupai jahe.
Pertumbuhan tanaman ini sangat lambat sebelum ia menghasilkan racun. Selain pohon racun asli, upas atau Anchar Jawa tumbuh mirip semak hanya saja efeknya lebih lemah.
“Anchar masuk dalam golongan ke-21 Linnaeus, berkeping satu, bunga jantan dan betina diproduksi dari putik pada cabang yang sama dan letaknya berdekatan dengan putik betina berada di atas putik jantan,” tulis Marsden
Petani di Jawa kebanyakan menggunakan serat kain dari kayu ini untuk bekerja di sawah setelah sebelumnya disamak, dicuci dan dikeringkan di bawah matahari sebelum bisa digunakan.
Seorang yang memakai kain ini jika terkena hujan akan merasa sangat gatal yang amat sangat. Ini disebabkan dalam pada kulit kayu terdapat kelenjar racun yang diproduksi.
Racun ini akan tetap menempel pada kain yang telah diproses dan bisa menimbulkan iritasi kulit bila basah.
Cairan pada kulit kayu ini juga lazim digunakan sebagai racun untuk panah. Percobaan yang dilakukan Marsden untuk menguji racun tersebut ditanggapi keberatan oleh penduduk lokal. Mereka khawatir akibat yang bisa ditimbulkan pada kulit. [4]
Dalam lawatannya ke Jawa, Marsden mengaku menemukan Pohon Upas paling besar di Hutan Blambangan yang penuh semak belukar hingga sulit didekati.
Marsden menyebut beberapa pohon muda sekonyong-konyong muncul dari benih yang jatuh.
Saat akhirnya Marsden berhasil mengumpulkan cairan dari pohon itu, ia teringat tulisan Foersch yang penuh berisi kebohongan sekaligus terbayang deskripsi Darwin dalam Botanical Garden.
“Dan dua iblis terikat dan tinggal di akar-akarnya.” [1]
Pohon ipuh atau dalam bahasa Latin dikenal sebagai Antiaris toxicaria ini merupakan salah satu anggota suku Moraceae. Dikenal luas berkat getahnya yang sangat beracun, pohon ipuh ternyata punya banyak kegunaan lain yang tidak diketahui banyak orang
Referensi
- Pohon Upas, Orang Eropa Menganggapnya Rumah Iblis, koransulindo.com, 19 Maret 2018
- George Eberhard Rumphius (1627-1702), Herbairum Amboinese
- Erasmus Darwin (1731-1802), The Botanic Garden
- William Marsden. History of Sumatra (1784)