Mitologi2 menit baca
Latitawistara, Kisah Relief Flora Korelasi Manusia Jawa
T
Tim Tanm16 Juni 2023 · 18 dibaca
Kisah Manusia Jawa Purba terpahat di Candi Borobudur menjadi penanda bahwa peradaban di tanah Jawa...
Kisah Manusia Jawa Purba terpahat di Candi Borobudur menjadi penanda bahwa peradaban di tanah Jawa sangat lekat dengan tumbuhan. Pada candi yang yang terletak di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah itu, terdapat 315 individu fauna serta 63 jenis flora terpahat pada bagian reliefnya. [1]
Candi Borobudur yang dibangun tahun 770 Masehi ini merupakan pusat keagamaan umat Buddha terbesar di dunia. Sebuah Mahakarya dari leluhur tanah Jawa dengan pahatan di 2.672 relief pada dinding candi. [1]
Borobudur kini seolah menjadi database ( pusat data) kuno lengkap yang menyimpan catatan penting mengenai keanekaragaman hayati Indonesia dengan kehadiran pahatan beberapa spesies fauna dan flora. [1]
Pahatan morfologi pada relief Candi Borobudur di Jawa Tengah yang sangat detil ini mengidentifikasi kisah kedekatan masyarakat Jawa kuno, serta pengetahuan ilmu botani yang menjelaskan kekayaan keanekaragaman tumbuhan di Nusantara [2]
Peneliti taksonomi dan agronomi, Dr. Destario Metusala, S.P., M.Sc. menemukan 14 spesies tumbuhan yang ditemukan dalam kisah Lalitavistara Sutra dari India juga ada di relief candi abad 8 masehi tersebut. [2]
"Ada tumbuhan asli Indonesia maupun tumbuhan alami yang tumbuh di wilayah tropis dataran rendah sebagai latar kisah dalam relief Borobudur yang berhasil diteliti." ujarnya saat memaparkan materi ”Relief Tumbuhan Candi Borobudur-Studi Kasus Pada Kisah Lalitavistara” dalam kegiatan diskusi daring berjudul ”Seperti Apa Flora Yang Tumbuh di Masa Nenek Moyang? Belajar dari Relief Candi Borobudur” [2]
Pahatan tumbuhan latar dalam relief, diyakini merupakan tumbuhan yang benar-benar harus ada dalam kisah, seharusnya pemahat fleksibel menggambarkannya. Tanaman di Relif ini lebih kompleks di bandingan dengan tumbuhan yang dipahat di candi abad 12 masehi Angkor Wat, Kamboja, yang terlihat lebih homogen
"Artinya pemahat butuh keahlian khusus. Pemahat saat itu sadar dengan kondisi sekitarnya. Mereka paham morfologi tumbuhan dan kekayaan hayati penting, sehingga rela membuat keribetan luar biasa saat memahatnya. Mereka tetap ingin ada keragaman tumbuhan itu,” ujar dia.
Penelitian terhadap 120 panil kisah Lalitavistara dalam relief Borobudur tersebut, terlihat bentuk tumbuhan dalam relief yang tidak monoton tetapi beragam, dibentuk berkesesuaian, misalnya daun sukun dipasangkan benar dengan buah sukun.[2]
Lalitawistara adalah kitab Buddha dalam bahasa Sansekerta.[2] Berisi kisah hidup dan ajaran Sang Buddha Gautama (pendiri agama Buddha) sejak turunnya Sang Buddha dari surga Tusita sampai ia memberikan khotbah pertamanya di Taman Rusa dekat Benares.[2][3] Kata sutra (dalam Lalitawistara sutra) merujuk pada gagasan bahwa inkarnasi Sang Buddha adalah hal yang sengaja diberikan untuk mencerahkan umat manusia.[4]
Relief Lalitavistara mengisahkan perjalanan hidup Sang Buddha Sidharta Gautama dan relief Karmawibhangga yang bercerita mengenai hukum sebab akibat. Relief-relief ini berada di bagian dasar dari candi dengan enam teras berbentuk bujur sangkar. [4]
Referensi
- Memaknai Pahatan Fauna di Borobudur, indonesia.go.id, 3 Desember 2020
- Yudha Manggala P Putra, Masyarakat Jawa Kuno Paham Pentingnya Keragaman Tumbuhan. Republika, 09 Mei 2020
- Ichtiar Baru Van Hoeve; Hassan Shadily. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7 (edisi khusus). Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.
- "Lalitavistara:Life of the Buddha". Brittanica.com 26 Juni 2014.