tanm
Warta2 menit baca

Kupa Kopi, Kolaborasi Ekologi Bernilai Ekonomi

T
Tim Tanm16 Juni 2023 · 33 dibaca

Di Desa Dompyong, Kec. Bendungan, Kab.Trenggalek terdapat ada area seluas 200 hektare di Kecamatan Bendungan...

Di Desa Dompyong, Kec. Bendungan, Kab.Trenggalek terdapat ada area seluas 200 hektare di Kecamatan Bendungan yang kini menjadi tempat agrowisata yang merupakan kebun dan bekas parbik kopi era Belanda.

Menurut cerita para sesepuh Desa Dompyong masa kini, Desa Dompyong dimulai sekitar Tahun 1807-an. ketika pelarian seorang punggawa dari Mataram bernama Djojoprojo kemudian menetap di Dukuh Dompyong [1]

Makam beliau sekarang ada di Dukuh Dompyong Dusun Pakel sebagai cikal bakal bakal adanya Desa Dompyong dan beliaunya menjadi Demang pertama Desa Dompyong. [1]

Sesuai Toponimi, Dompyong juga merupakan nama tanaman dengan takson Syzygium polycephalum, yang salah satu tanaman yang termasuk dalam family Myrtaceae. [2]

Tanaman buah ini merupakan endemik Asli Nusantara yang banyak tersebar luas di pulau Kalimantan dan Jawa ini secara lokal dikenal sebagai gowok, kupa, kepa, atau ruruhi.

Dompyong (Kupa) tumbuh liar terutama di hutan Jawa, termasuk lereng Wilis yang berada di elevasi  200–1800 m dpl. Selain itu Kupa juga ditanam di ditanam di kebun-kebun pekarangan dan lahan-lahan wanatani (agroforestry) sebagai tanaman penghasil buah dan penambah tutupan lahan yang miring.  [2]

Nama Kopi dan Kupa (Dompyong) seolah menjadi hal yang tak terpisahkan. Konon, pada tahun 1929, ketika Meneer Van Dilem membangun pabrik kopi di kawasan selingkar Wilis juga telah mempertimbangkan elevasi dan vegetasi yang ada di lingkungan tersebut 

Karakteristik vegetasi sekitar tanaman kopi benar2 di teliti, sehingga ketika menyaksikan buah dompyong, maka keputusan untuk menyandingkan antara Kupa dan Kopi ini menjadi impian sang Meneer. 

Komoditas Robusta yang di tanam di ketinggian 800 mdpl tentu sangat tepat di tanam di desa Dompyong, terlebih saat itu hutan di lereng wilis sisi Selatan ini banyak di tumbuhi tanaman bertajuk tinggi yang cukup untuk menjadi vegetasi 

Tanaman Dompyong, secara etnobotani dapat dikonsumsi, kulit batang tanaman ini dikonsumsi setelah direbus untuk pengobatan disentri secara tradisional. Keseluruhan buah berpotensi sebagai sumber antioksidan yang kuat, demikian juga dengan daun dan kulit batangnya. [3]

Kini, Keberadaan Dompyong di Desa Dompyong menjadi langka, akibat alih fungsi lahan.
Keberadaan desa ini telah tercatat pada peta pemukiman di Karesidenan Kediri. dengan toponimi Dompjong dan dicantumkan sesuai dengan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Juli no.8 tahun 1869 sampai dengan tahun 1875, yang di terbitkan oleh Universitaire Bibliotheken Leiden. [4]

author: tofan@pawinihan

Referensi 
  1. Sejarah Desa Dompyong, laman dompyong-bendungan.trenggalekkab.go.id
  2. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 1522.
  3. Dr. Alfinda Novi Kristanti, DEA, Mengenal Lebih Jauh Tanaman Gowok, unair.ac.id
  4. Kaart van de Residentie Kediri. opgenomen ingevolge Gouvernements besluit d.d. 6 juli nr.8 in de jaren 1869 t/m 1875, Universitaire Bibliotheken Leiden