Riset4 menit baca
Kitab Tib, Manuskrip Biofarmaka Japa Mantra Melayu
T
Tim Tanm2 Juli 2023 · 20 dibaca
Kekayaan Bumi Melayu telah terbukti sejak zaman dulu, bahkan keanekaragaman flora ini dimanfaatkan secara maksimal...
Kekayaan Bumi Melayu telah terbukti sejak zaman dulu, bahkan keanekaragaman flora ini dimanfaatkan secara maksimal oleh leluhur Nusantara sebagai bahan makanan, bumbu dapur hingga ramuan herbal untuk pengobatan.
Leluhur Melayu mengenal budaya pengobatan yang memanfaatkan tumbuhan sebagai pengobatan herbal.
Budaya biofarmaka ini di catat dalam manuskrip Kitab tib yang diperkirakan ditulis pada tahun 1889 hingga awal tahun 1890-an, tulisannya menggunakan tinta hitam dengan tulisan arab melayu. [1]
Dalam Khazanah manskrip Melayu, kitab tib dikenal sebagai kitab obat atau ilmu obat dan pengobatan tradisional melayu. [1]
Dalam buku hasil kajian tentang kitab tib ilmu perubatan melayu (2006;22), Harun Mat Piah mengatakan tib yang berasal dari bahasa arab itu mengandung makna : ubat, tukang ubat (tabib), surat ubat (wasfatu’t-tabib), perubatan atau ilmu perubatan (ilmu tabib). [1]
Cakupan makna perkataan tib itu sangat luas, kandungan isinya tidak hanya terbatas pada ilmu pengobatan saja
Sebuah kitab tib melayu juga berisi ilmu-ilmu lain seperti ilmu raksi bintang, ramalan, ‘ilmu birahi’ (sex), ilmu firasat orang melayu, tabir mimpi, raksi jodoh dan sebagainya. [1]
Dr. Junaini Kasdan, [2] dalam Belajar dari “Kitab Tib” Manuskrip Wabah dan Dunia Obat Masa Lampau menyebutkan khazanah pengobatan tradisional Melayu, jenis penyakit, ramuan, dan tatacara pembuatan hingga konsumsi.
Dalam Kitab Tib di ditemukan berbagai hal mulai cara menentukan penyakit, menghindari penyakit, bilangan edaran tahun arab, ilmu siam, obat-obatan, dan hal-hal sejenis.
Terdapat 34 jenis penyakit yang dideskripsikan secara teperinci, Seperti sakit mata yang dijelaskan menjadi 12 jenis dengan obat yang berbeda.
Petunjuk pengobatan yang digunakan dokter saat ini juga mirip dengan petuah dalam Kitab Tib. [2]
“Ketika demam kita akan diberikan obat generik, namun dahulu kala orang tua akan memberikan obat dari bumbu dapur yang tidak berefek samping,” tulis Dr. Junaini Kasdan [2]
Dalam Kitab Tib bagian tumbuhan yang dimanfaatkan untuk obat, yaitu akar, daun, batang, bunga, buah, biji, kulit, dan isi.
Sedangkan cara penggunaannya bervariasi, yakni diminum, makan, mandi, kunyah, telan, usap, tempel, sembur, hingga kumur.
Kitab Tib itu pula diketahui ada beberapa tumbuhan yang beracun juga dimanfaatkan tanpa memakannya.
"Yakni, dengan menempel atau mengusap karena racun itu dapat melawan penyakit dari luar," sahutnya.
Kesederhanaan pengobatan tradisional pun terlihat dari cara mengukur dosis obat.
Sebut saja pemanfaatan kunyit sebagai obat ukurannya disesuaikan jempol tangan yang mengidap penyakit, hal itu sebagai batasan atau dosis.
Bahan tradisional dalam Kitab Tib telah dikaji secara scientific dan sistematik oleh ahli farmasi dan terbukti manfaatnya

Selain membuat pengobatan Herbal, kitab Tib juga memuat Japa, yakni adalah pengulangan mantra suci selama beberapa kali yang dilakukan dengan tujuan untuk mengobati penyakit.
Japa ini di kenal dalam leluhur Nusantara, sebab masyarakat percaya bahwa penyakit itu tidak selalu bisa di sembuhkan dengan pengobatan herbal.
Ada sejumlah penyakit yang berasal dari gangguan ‘kasat mata; terhadap manusia yang disebabkan oleh jin , hantu, makhlus halus lainnya. [1]
Kaidah pengobatan terhadap penyakit yang berasal dari gangguan kasat mata ini biasanya dilengkapi dengan lafaz jampi-jampi, serapah, rajah, dalam bentuk tulisan dan gambar [1]
Ada pula azimat, cuca-cuca, dan doa-doa yang berasal dari Al Qur'an serta serapah-jampi sisa sisa warisan animisme. [1]
Tib juga memuat masalah-masalah non medis yang berkenaan dengan punguat syahwat, ‘pemanis’ dan penyeri dalam hidup bermasyarakat seperti jampi-jampi pemikat lawan jenis.
Dalam kitab ini terdapat lebih dari seratus buah formula, resep atau rempa, rajah, azimah dan doa yang bekenaan dengan pengobatan.
Sebagai contoh untuk mengobati penyakit tubuh sengal-sengal atau kering angin ramuannya [1] yaitu ;
‘…..pertama , halia Cina beratnya sekati dan pala tiap kati, dan kadung Cina tiap kati, dan cengke anam tahil dan ampat tahil, lada sulah setengah kati, maka racik-racik semuanya itu jemur hingga kering (tiga) 3 hari. Maka goring semuanya jadi satu, lalu dimakan dengan gula batu.”
Bagi ibu menyusui yang tak kunjung keluar air susunya [1], maka obatnya ;
…’ bacakan pada putting susu. Ini doanya : Bismillah hirrahmanirrahim. Tatkala Ali bertemu Fatimah, Mani Ali dengan Mani Fatimah titik ke bumi menjadi pisang emas. Getahnya menjadi air susu. Itulah asal mulanya jadi air susu. Teruslah engkau berkata Laillah –ha-illallah-Muhammad-rasul-Allah’.
Pada tahun 1886, The Pharmaceutical Society of Great Britain mempunyai simpanan sebuah buku perubatan yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul, The Medical Book of Malayan Medicine. [3]
Bahkan, salah satu ramuan yang terdapat dalam buku tersebut (halaman no.99) turut digunakan sebagai obat untuk melegakan penyakit asma dan bronkitis di Barat sekitar tahun 1915. [3]
Referensi
- Harun Mat Piah, Buku Khazanah Manuskrip Riau-Lingga Abad 19, disbud.kepriprov.go.id
- Dr. Junaini Kasdan, Belajar dari “Kitab Tib” Manuskrip Wabah dan Dunia Obat Masa Lampau, news.unair.ac.id
- Mastika (2021) KITAB TIB – Di dalamnya tercatat rahsia ilmu perubatan Melayu zaman dahulu, Utusan.tv