Mitologi3 menit baca
Kisah Asem Jawa, Mitos Kuburan Pekerja di Jalan Raya Pantura
T
Tim Tanm27 Juni 2023 · 20 dibaca
Jalan Raya Anyer - Panarukan yang menjadi urat nadi perekonomian Jawa menyimpan Kisah yang penuh...
Jalan Raya Anyer - Panarukan yang menjadi urat nadi perekonomian Jawa menyimpan Kisah yang penuh misteri. Kisah sumbang dan sumir di balik keberadaan jalan raya pos yang di bangun di era Herman Willem Daendels ini masih kerap kita dengar hingga kini.
Sejarah mencatat, pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels. membangun Jalan Raya Pos guna mendukung aksesibilitas antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa.
Herman Willem Daendels menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda selama tiga tahun (1808-1811). dalam kurun waktu 4 tahun ini, Daendels membangun di berbagai bidang, yakni pendukung ekonomi maupun pertahanan karena ditugaskan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris.
Capaian Daendels yang paling terkenal dan dapat kita liat saat ini adalah Jalan Anyer-Panarukan atau Jalan Raya Pos yang memiliki panjang mencapai seribu kilometer
Kerja paksa, yang memakan ribuan korban jiwa penduduk pribumi itu dinamakan kerja rodi. Jalan yang dibangun adalah Jalan Raya Pos yang panjangnya kurang lebih 1000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan.
Proyek Jalan Anyer-Panarukan, bahkan kerap dianggap sebagai "genosida" karena menelan ribuan korban,
Pramoedya Ananta Toer mengatakan jika dibandingkan jalan Amsterdam–Paris, yang pembangunannya yang hanya setahun (1808-1809), yakni pada masa yang sama, maka Jalan Raya Daendels bak sebuah mahakarya rekor dunia yang bisa kita lihat hingga kini.
“Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer [1]
Pembangunan jalan Bogor-Cirebon yang berjarak 150 km di tetapkan pada 25 April 1808 dan pengerjaannya dimulai awal Mei 1808. “Dalam membuat jalan yang sulit dan menembus gunung-gunung tinggi ini dikerahkan 1.100 tenaga kerja paksa,” tulis Pram [1]
K. Heyne, dalam bukunya penulis buku “De Nuttige Planten van Ned”, dia menceritakan dalam bukunya, “The Batavia heb ik een laan van 30 a 40 oude tamarindeboomen zien rooien voor het verbreeden van den weg”,[2] yang berarti bahwa dia pernah melihat di Batavia (wilayah Jakarta) pohon asam jawa yang sudah tua berjejer sekitar 30-40 pohon. [3]
Ini menjelaskan bahwa sebelum dia menulis buku yang terbit tahun 1916 itu sudah ada pohon asam jawa yang ditanam. [3]
"Saya menemukan sebuah buku yang telah saya sebutkan di atas, ditulis dalam bahasa Belanda dan diberi judul “De Nuttige Planten van Ned” terbitan tahun 1916. Di halaman 232-235 buku itu saya temukan beberapa penjelasan tentang pohon asam jawa." Tulis Muhammad Afnizal, S.Sos, dalam artikel Menerka Dalil Belanda Tanam Asam Jawa [3]
Kisah Keberadaan Asem Jawa juga di percaya masyarakat sebagai bukti kuburan bagi para pekerja paksa, kisah ini menjadi folklor di pesisir pantura yang bercerita tentang mayat pekerja paksa di kubur dan diatasnya di tanami pohon asem Jawa.
Folklor ini cukup bisa terima, sebab jika Jalan raya daendels diyakini sebagai kerja paksa "genosida" ribuan pekerja tentu Belanda akan kesulitan untuk memberikan pemakaman yang layak bagi para pekerja.
Deretan pohon Asem di jalan Pantura ini berjarak 25 meter, di sepanjang jalan. Hingga kini, pohon Asem tersebut masih bisa kita lihat, dan bahkan saat terjadi insiden kecelakaan tunggal, yakni kendaraan bermotor yang menabrak pohon asem Jawa, masih kerap di kaitkan dengan penunggu pohon asem yang merupakan arwah dari para pekerja. Wallahu Alam Bi Shawab tofan.ardi@pawinihan
Referensi
- Pramoedya Ananta Toer, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
- K. Heyne, De Nuttige Planten van Ned
- Muhammad Afnizal, S.Sos, Menerka Dalil Belanda Tanam Asam Jawa, Tribunews 22 Januari 2020