tanm
Warta3 menit baca

Ironi Negeri Agraris, Pemuda Tak Bertani Krisis Pangan Menghantui

T
Tim Tanm4 Juli 2023 · 65 dibaca

Nusantara adalah Negara Agraris, siapa yang bisa menyangkal. Peradaban Nusantara dalam berbagai literatur diyakini sebagai...

Nusantara adalah Negara Agraris, siapa yang bisa menyangkal. Peradaban Nusantara dalam berbagai literatur diyakini sebagai Surga yang di gambarkan Santos sebagai Atlantis. [1]

Pertanian di Nusantara, identik dengan desa, masyarakat bawah, rakyat jelata. Kendati didalamnya memuat aktifitas yang mulia, namun tetap saja perlahan kehilangan magnet dari para anak muda.  

Dalam terminologi, pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia, hal ini tentu memperkaya makna kerja. 

Bertani dianggap keterampilan profan, tetapi bagi orang beragama, pertanian selalu menjadi bagian dari ritual pertama dan terutama.

Hal ini terkait dengan kekuatan misterius pertumbuhan tanaman yang entah bagaimana bekerja di benih dan alur. Itu dilakukan di tubuh Ibu Pertiwi sendiri. 

Istilah Revolusi Neolitik [2] terlepas dari komponen keduanya, menunjukkan periode inovasi teknologi, ekonomi, dan agama secara bertahap yang terjadi kira-kira antara 9000 dan 7000 SM

Selama periode itu banyak masyarakat beralih dari ekonomi berburu dan meramu menuju ekonomi yang didasarkan pada domestikasi hewan dan tumbuhan. 

Domestikasi mengakibatkan munculnya pertanian sebagai bentuk khusus produksi hewan dan tumbuhan dan menempatkan manusia pada posisi - dalam arti tertentu - penyediaan makanan berkelanjutan. Istilah Silvopastura, Minapadi, lantas diperkenalkan

Peternak dan Petambak yang menjalankan peran sebagai penghasil makanan baru ini membawa banyak perubahan. Untuk satu hal, pertanian mengubah pembagian kerja, karena perempuan mulai mengambil bagian yang lebih baik dari tanggung jawab penghidupan.

Para petani lantas mengembangkan teknik yang lebih akurat untuk perhitungan waktu, karena aktivitas rumit yang dilakukan, harus direncanakan berbulan-bulan sebelumnya dan dikoordinasikan baik dengan siklus tahunan maupun dengan siklus kehidupan tanaman yang bervariasi sesuai musim

Ya, Petani adalah seorang Manajer! ia tau kapan harus menanam padi, menanam jagung, mengganti dengan kedelai, labu, semangka bahkan bawang merah. 

Diatas satu bidang tanah, ia harus memutuskan apa yang akan di tanam pada musim ini, sembari mempertimbangkan kebutuhan pasar, ketersediaan bibit, dan memprediksi anomali perubahan iklim

Di Jawa, petani mengintegrasikan pola bercocok tanam dengan periode waktu yang menguntungkan dan spekulatif; dan hal ini memaksa petani untuk berpacu dengan kalender Pranata Mangsa

Peran Matahari untuk membantu pertumbuhan tanaman dan memperbaharui energi pemberi kehidupan bumi, setidaknya memantik keterarikan petani agar peka pada tanda yang di sampaikan alam

Kemunculan capung, kupu-kupu, hingga gugurnya daun trembesi dan mekarnya bunga, seolah menjadi semiotika kehidupan

Di atas segalanya, sektor pertanian menyediakan banyak sekali analogi yang memungkinkan manusia untuk melihat mata rantai yang diperlukan serta menjamin kehidupan tanaman melalui siklus hidrologi.  

Bak sebuah siklus, ritme berulang ini menjadi dasar untuk konstruksi teoretis yang memberi makna pada kehidupan, dan mereka mengalami kualitas kehidupan yang berirama ini diperkuat berkali-kali 

Dalam tempo penantian panen yang lama, para petani berdaya menggembala ternak, bekerja paruh waktu, berdagang.

Ya, Pertanian modern kini menciptakan peluang bagi pikiran manusia untuk memahami kebenaran tertentu yang jauh lebih sulit dipahami sebelumnya. 

Petani juga memiliki implikasi tragis, saat dihadapkan pada kelangkaan pupuk, sementara di saat yang sama, ia sebagai produsen makanan, telah teruji untuk bertanggung jawab atas kerajaan tumbuhan (Kingdom : Plantae) lewat upaya pemuliaan tanaman. 

Selama berabad - abad, petani di tanah Jawa berhubungan secara intim dengan tanah dan setiap musim panen, menumbuhkan harapan besar bahwa seperti benih tumbuh di muka bumi, akan memberi penghidupan bagi manusia

Kini, sektor pertanian dihadapkan pada fakta bahwa tak banyak petani yang memahami ilmu bertani. Entah, akibat dari modernisasi, atau minimnya literasi hingga sangat sedikit para alumni pertanian yang ingin bertani dan memilih menjadi PNS, buruh pabrik, karyawan kantor. 

Ironisnya, tak sedikit petani yang menjual sawahnya, agar anaknya meninggalkan dunia pertanian untuk berangkat ke luar negeri menjadi TKI / TKW. 

Sawah yang mulai ditinggal, hingga tak tersisa anak muda yang mau bercocok tanam. Artinya menjadi Petani itu "nggak keren"

Munculnya profesi baru, membawa arus perubahan dan menggeser minat anak muda untuk terjun di sektor pertanian, profesi seperti youtuber, vloger, content creator, broker kripto lebih diminati karena tak butuh banyak keringat. 

Akan kemanakah sektor pertanian kita ? haruskah 10 tahun kedepan kita impor beras agar bisa makan? 

Mari Kembalikan Kejayaan Negeri Agraris Nusantara 

Tofan Ardi | Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, HKTI Nganjuk

Referensi
  1. Arysio Santos (2017) 'Atlantis, The Lost Continent Finally Found, Atlantis Publication, 365 hal
  2. Mircea Eliade, A History of Religius Ideas, Tentang asal usul pertanian pada periode Neolitik