tanm
Warta3 menit baca

Goa Sunyaragi, Tamansari Buatan Plesiran Sultan

T
Tim Tanm24 Juli 2023 · 14 dibaca

Keberadaaan taman memiliki makna yang lebih luas, sebagai simbol kemakmuran bahkan secara spiritual dikaitkan dengan...

Keberadaaan taman memiliki makna yang lebih luas, sebagai simbol kemakmuran bahkan secara spiritual dikaitkan dengan surga. 

Taman secara etimologi berasal dari kata Gard yang berarti menjaga dan Eden yang berarti kesenangan, secara umum bisa diartikan bahwa taman merupakan tempat untuk bersenang-senang

Budaya rekreasi (traveling) mengunjungi tempat tertentu untuk sekedar berwisata, atau bahkan refresing -mengutip istilah remaja -- yakni Healing "menyembuhkan diri"  / relaksasi telah di lakukan sejak era kesultanan. 

Kesultanan Cirebon memiliki destinasi khusus untuk berwisata yang berupa taman dan bukit-bukit buatan yang terbuat dari kombinasi batu karang dan bangunan.  

Taman ini disebut Sunyaragi yang berlokasi di Kasultanan Cirebon, Jawa Barat, lokasi tepatnya berada di antara Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman di Cirebon.

Nama "Sunyaragi" secara etimologi berasal dari bahasa sansekerta, "sunya" berarti sepi dan "ragi" berarti raga.

Nama ini sesuai dengan tujuan utama didirikannya, yakni sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya.

Lanskap taman seluas 15 ha [1]  ini berisi bangunan situs, yang mengadopsi konsep taman air. Karena itu Gua Sunyaragi disebut taman air gua Sunyaragi, dan pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati

Kompleks Tamansari Sunyaragi [2] ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. 

Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. 

Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar kompleks aku bermotif batu karang dan awan. 

Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa. Induk seluruh gua [2] bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. 

Terdapat Gua Pande Kemasan [2] yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. 

Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. 

Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan.

Sunyaragi menjadi salah satu peninggalan keraton saat dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, di dalamnya dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. 

Relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasalatan atau musholla, mencerminkan corak peradaban Timur Tengah yang bernuansa Islam 

Jejak kejayaan Kesultanan Islam juga terlihat pada pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. 

Gua Sunyaragi didirikan pada zaman penjajahan Belanda sehingga gaya arsitektur Eropa mewarnai corak pada goa

Tanda lain terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan.

Kesan sakral akan tampak ketika berada di lorong-lorong bekas tempat berkhalawat (pertapaan), kolam-kolam pemandian (petirtaan), altar-altar mirip tempat pemujaan, dan benda-benda arkeologis lainnya yang bersifat spiritual.

Kesan profan lebih banyak didukung oleh adanya bangunan-bangunan bentuk joglo dan relief-relief kembang kaningaran serta benda-benda arkeologis berupa artefak logam, kayu dan keramik.

Secara visual, [3] motif Wadasan dan Mega Mendung ini sangat mendominasi di sebagian besar tembok kompleks Gua Sunyaragi . Pasangan-pasangan batu karang ditata sedemikian rupa membentuk corak Wadasan dan Mega Mendung. 

Kemudian bagian-bagian tertentu dilengkapi pula dengan motif-motif tanaman rambat, baik berupa patran maupun simbaran. 

Di situs ini, [3] motif Wadasan dan Mega Mendung diyakini merupakan simbol kehidupan. Mega melambangkan langit atau udara sedangkan Wadas yang berarti batuan melambangkan bumi. 

Motif-motif tanaman merambat, [3] patung-patung hewan dan manusia melambangkan isi dari dunia yang memiliki bumi dan langit beserta isinya.

Di masa kejayaan, Kesultanan Cirebon membagi tiga takhta sultan di kota ini: Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. 

Di taman Keraton Kanoman [4] hingga kini terdapat bangunan besar tinggalan permukiman awal di Cirebon. Sedangkan di Keraton Kanoman, sebuah gua buatan sebagai tempat beristirahat dan meditasi bagi Sultan.

Referensi
  1. Pikiran Rakyat "Antara Mitos dan Jodoh di Goa Sunyaragi Cirebon". 
  2. Budi Tjahjono Objek Wisata Situs Peninggalan Sejarah Sebagai Karya Arsitktur Kasus telaah : Taman Gua Sunyaragi Cirebon. Cirebon : Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon
  3. Goa Sunyaragi, Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Jawa Barat 
  4. Mahandis Yoanata Thamrin, Sihir Taman-Taman Pelesiran Ningrat di Nusantara, National Geografic Indonesia, 18 Maret 2019