tanm
Mitologi5 menit baca

Ficus Religiosa, Pengaruhi Agama dan Peradaban Manusia

T
Tim Tanm18 Juni 2023 · 16 dibaca

Jika ada Pohon yang mampu mempengaruhi peradaban Manusia, maka jawabnya adalah Ficus Religiosa. Kisah ini...

Jika ada Pohon yang mampu mempengaruhi peradaban Manusia, maka jawabnya adalah Ficus Religiosa. Kisah ini tertulis dalam puisi epik The Mahavamsa, sebuah karya sastra yang menceritakan tentang pohon ara dan pengaruhnya pada umat manusia.

"Ara, begitu menguasai imajinasi manusia" tulis karya sastra itu. 

Alkisah, sang Kaisar India Ashoka Agung [1] memberikan mandat untuk mencabut salah satu cabang pohon dari genus Ficus yang dianggap paling penting. 

Kisah itu datang dari peradaban 2.000 tahun yang lalu. Di bawah pohon inilah Buddha dikatakan telah mencapai pencerahan. Asoka menganugerahkan gelar raja pada cabang itu, dan menanamnya di Vas emas padat berbingkai tebal. 

Ara mampu memainkan peran penting dalam evolusi manusia dan awal peradaban. Sebagai pohon yang memiliki umur panjang, Ficus bukan sekedar sejarah, Ficus telah membentuk masa lalu, bahkan memperkaya cerita hidup manusia di masa depan, serta khasanah tentang keberadaan Ara sebagai pohon ekologis (penjaga bumi) 

Pohon misterius ini justru menyembunyikan bunga di dalam buah ara yang berongga. Keindahan yang seolah enggan di tampakkan oleh mata manusia, Disisi lain, ara justru sangat bangga memamerkan bagian akar melalui batangnya yang kekar. 

Ficus  juga berhasil menginspirasi lambang negara Indonesia. Lewat sila ke 3 yang menyiratkan simbol persatuan di tengah keberagaman. Akar pohon beringin (Ficus Benjamina) ini menjuntai merepresentasikan belasan ribu pulau hingga membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Negara Barbados terinspirasi oleh pemandangan yang menyambut penjelajah Portugis, Pedro a Campos, ketika kapalnya mencapai pulau itu pada tahun 1536. 

Campos melihat beringin tumbuh di sepanjang pantai dan dahannya yang lebat seperti kumpulan helai rambut kusut. Campos pada akhirnya menyebut pulau itu sebagai Los Barbados, yang artinya “berjanggut”. 

Pohon Ficus telah di puja selama lebih dari 2.000 tahun oleh umat Buddha, Hindu, dan Jain. Pohon yang sama ditampilkan dalam himne pertempuran yang dinyanyikan oleh orang-orang Veda 3.500 tahun yang lalu. Bahkan, 1.500 tahun sebelumnya, pohon muncul dalam mitos dan seni Peradaban Lembah Indus.

Di tempat lain di Asia, budaya telah mengadopsi pohon ara sebagai simbol kekuasaan dan tempat berdoa. Buah ara ditampilkan dalam cerita penciptaan, cerita rakyat, dan upacara kesuburan. 

Beringin India (Ficus benghalensis) nampak begitu besar, sehingga bisa menyerupai hutan kecil dari kejauhan.

Satu pohon beringin di Uttar Pradesh dikatakan abadi. Satu pohon lainnya di Gujarat dipercaya tumbuh dari ranting yang digunakan sebagai sikat gigi. Pohon ketiga diyakini muncul di mana seorang wanita melemparkan tubuhnya ke atas tumpukan kayu setelah suaminya meninggal. 

Orang Eropa pertama yang menikmati keteduhan Ficus adalah Alexander Agung dan tentaranya, yang tiba di India pada 326 SM. Kisah mereka tentang pohon ini segera sampai ke filsuf Yunani, Theophrastus, pendiri botani modern. Dia telah mempelajari buah ara yang dapat dimakan, disebut dengan Ficus carica.

Ficus carica menjadi makanan penting bagi beberapa peradaban kuno lainnya. Raja Sumeria Urukagina menulis tentang buah ara hampir 5.000 tahun yang lalu. 

Raja Nebukadnezar II menanamnya di taman gantung Babilonia. Raja Salomo dari Israel memuji ara dalam nyanyian. 

Dalam mitologi Yunani dan Romawi kuno mengatakan buah ara dikirim dari surga.

Cerita tentang pohon ajaib ini juga datang dari manusia purba. Buah yang dihasilkan mungkin telah membantu manusia purba mengembangkan otak menjadi lebih besar. 

Sementara manusia modern pertama kali mendapat manfaat dari buah ara dengan mendomestikasi pohon beberapa ribu tahun yang lalu. 

Penduduk Mesir Kuno menggunakan buah ara dalam beberapa ritual. Para Firaun membawa buah ara kering ke kuburan untuk menopang jiwa yang telah mati dalam perjalanan menuju alam baka. Mereka percaya ibu dewi Hathor akan muncul dari pohon ara yang mistis untuk menyambut di pintu surga. [1]



Kisah tentang khasiat (kekuatan penyembuhan) buah ara juga muncul di Alkitab. Hizkia, Raja Yehuda jatuh sakit karena wabah bisul. Beruntungnya, sang raja sembuh setelah para pelayan dan tabib mengoleskan pasta dari buah ara yang dihancurkan ke kulit raja. 

Buah ara adalah sumber makanan pokok pada zaman Alkitab dan juga pada zaman sekarang di beberapa negeri Timur Tengah. Buah ini dijadikan ”kue ara kering” (Ibr., deve·limʹ), yang praktis untuk dibawa. (1Sam 25:18;30:12; 1Taw 12:40)  [2]

Kue seperti itu ditaruh pada bisul Raja Hizkia, dan metode pengobatan ini masih digunakan sampai sekarang di Timur Tengah.—2Raj 20:7. [2]

Dalam Perjanjian Baru, pohon sycamore  (sukomorea) ini muncul di Luk 19:4, yaitu pohon yang dinaiki Zakheus untuk melihat Yesus.

Dalam bahasa Ibrani, ada beberapa kata yang merujuk pada pohon ara: teenah : buah atau pohon ara secara umum | pag : buah ara muda (Kid. 2:13) | bikkurah: buah ara muda (Yes. 28.4; Yer. 24.2; Hos. 9.10; Mik. 7.1) [3] 

Faktanya, obat-obatan yang dikembangkan selama ribuan tahun oleh orang-orang di seluruh daerah tropis mengambil kulit kayu, daun, akar, dan getah dari pohon ara.

Pohon ara tidak hanya membantu peradaban dan budaya bangkit. Tetapi, tumbuhan juga menyaksikan peradaban jatuh, bahkan membantu menyembunyikan reruntuhan. 

Misalnya, kota-kota besar Peradaban Lembah Indus berkembang pesat antara 3300 dan 1500 SM. Namun peradaban hilang dari sejarah sampai 1827, ketika seorang pengelana dalam pelarian bernama Charles Masson tiba di sana.

Dalam konteks mitigasi bencana, pohon ara terbukti mampu membantu hutan kembali tumbuh dan membanjiri bangunan yang ditinggalkan. Benih akan berkecambah di celah-celah batuan. Buah ara akan mengundang kehadiran hewan yang bersedia untuk menyebarkan benih ke pohon lainnya. 

Kejadian letusan gunung berapi seperti Krakatau pada tahun 1883 di Selat Sunda membersihkan pulau dari semua kehidupan. Pohon ara sebagai salah satu tanaman yang muncul pertama kali pasca bencana dahsyat itu berperan penting dalam mendorong hutan untuk terbentuk kembali. 

Para ilmuwan kemudian belajar dari pengalaman ini dengan menanam pohon ara untuk mempercepat regenerasi hutan akibat penebangan.

Orang di timur laut India memanfaatkan akar ara untuk menyeberangi sungai dengan membangun jembatan yang kuat, sehingga dapat menyelamatkan nyawa manusia pada musim penghujan.

Di Ethiopia, pohon ara membantu petani beradaptasi dengan kekeringan melalui pemanfaatan bagian pohon sebagai pakan kambing. [1]

Secara keseluruhan, pohon ara lekat dengan sejarah manusia dan dapat membantu manusia modern mengurangi perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati, dan meningkatkan mata pencaharian.

Syaratnya, manusia harus terus menanam dan melindungi pohon-pohon ini, seperti yang telah dilakukan nenek moyang selama ribuan tahun. [1]

Referensi 
  1. Mike Shanahan, The tree that shaped human history, BBC Earth, 20 Februari 2017
  2. Pohon Ara dalam perumpamaan Alkitab, nofanolozai.blogspot.com
  3. Ev. Nike Pamela,  Pohon Ara dalam Alkitab,  Reformed Exodus Community, 20 Januari 2019