tanm
Toponimi2 menit baca

Desa Nagasepaha, Kisah Nangka yang Dibuang

T
Tim Tanm19 Juni 2023 · 14 dibaca

Desa Nagasepaha merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Desa ini...

Desa Nagasepaha merupakan sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Desa ini berjarak kurang lebih 9 km dari pusat Kota Singaraja. Salah satu kerajinan khas dari desa ini yaitu seni lukis wayang kaca.

Desa yang luasnya kurang lebih 1.2 km persegi ini memiliki penduduk yang sebagain besar bekerja sebagai petani. Selain itu,  potensi kerajinan lukisan wayang kaca juga dikenal di desa ini. 

Dahulu di wilayah ini, tersebutlah sebuah Desa Prabakula yang kini bernama Desa Padangbulia. Desa ini memiliki wilayah yang sangat luas meliputi Desa Pegadungan, Desa Nagasepaha, Desa Gitgit, Desa Ambengan, Desa Silangjana, hingga Desa Lemukih. Ketika itu, Nagasepaha belum berupa desa dan hanya merupakan sebuah banjar yang bernama Banjar Kelodan.

Saat ada piodalan di Pura Bale Agung Desa Adat Prabulaka, Banjar Kelodan mendapatkan bagian untuk membawa pesu-pesuan berupa buah nangka. Buah nangka ini akan digunakan sebagai sayur untuk disajikan kepada krama desa adat yang mempersiapkan upacara piodalan.

Karena sudah mendapat tugas membawa buah nangka, semua warga Banjar Kelodan yang saat itu berjumlah 27 Kepala Keluarga (KK) pun membawa nangka ke pura. Sampai di pura, kelihan banjar mengecek pesu-pesuan yang dibawa warganya satu persatu.

Semua warga banjar pun telah membawanya. Akan tetapi, saat buah nangka ini dibuka ternyata semuanya hanya tinggal ampas saja. Karena tak berisi daging, sehingga buah nangka ini tak bisa digunakan sebagai bahan sayur. 

Bendesa Adat pun meminta kepada kelihan Banjar Kelodan agar menyuruh warganya kembali membawa buah nangka.

Sesuai permintaan Bendesa Adat, kelihan banjar meminta warganya untuk kembali membawa pesu-pesuan berupa buah nangka. Hal yang sama ternyata kembali terjadi. Buah nangka yang dibawa warga Banjar Kelodan ternyata hanya tersisa ampas saja.

Bendesa Adat pun marah dan mengancam apabila untuk yang ketiga kalinya warga masih tetap membawa nangka yang hanya berisi ampas, pihaknya akan melakukan Paruman Agung untuk mengeluarkan banjar ini dari keanggotaan Desa Prabakula.

Warga Banjar Kelodan pun kembali membawa pesu-pesuan buah nangka ke pura. Dan untuk yang ketigakalinya, setelah dibuka ternyata semua nangka hanya tinggal ampasnya saja. Atas kejadian itu, dilakukanlah Paruman Agung untuk mengeluarkan atau memecat Banjar Kelodan ini dari keanggotaan warga Desa Prabakula.

Karena dipecat dari keanggotaan desa, warga dari 27 KK ini pun tak bisa mengikuti upacara piodalan. Mereka kemudian mendirikan sebuah pura di ujung selatan Banjar Kelodan. 

Sementara wilayah Banjar Kelodan ini berganti nama menjadi Nagasepaha. Hingga sekarang wilayah ini pun bernama Desa Nagasepaha artinya nangka yang dibuang.

Referensi 
  1. Web Desa Nagasepaha
  2. Sejarah Desa Nagasepaha Buleleng, Berawal dari Buah Nangka Tanpa Daging, Telusur Bali, 3 Desember 2019