tanm
Toponimi2 menit baca

Desa Manggis, Kisah Cucu Raja Klungkung Bangun Desa Tepian Teluk Badung

T
Tim Tanm17 Juni 2023 · 9 dibaca

Desa Manggis, sebuah desa yang berada di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Saat ini, Desa manggis...

Desa Manggis, sebuah desa yang berada di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Saat ini, Desa manggis terdiri atas 12 banjar yakni Banjar Pegubugan, Bakung, Siig, Pande, Tengah, Kawan, Kelodan, Buitan, Apit Yeh Kaja, Belong, Yehpoh, serta Apit Yeh Kelod. Terbentuknya desa ini memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Klungkung. [1]

Desa yang terkenal dengan ikon patung manggis yang ada di pertigaan desa ini memang lekat dengan sejarah Desa yang terkait buah Manggis. 

Tanaman dengan nama takson Garcinia mangostana ini merupakan sejenis tanaman penghasil buah yang bisa hidup puluhan tahun, banyak orang yang menyakini bahwa tanaman ini berasal dari Nusantara. [2] 

Kisah awal Desa Manggis bermula ketika itu, Raja Klungkung yang bernama Dalem Demade yang berkuasa pada saka 1543 - 1573 mempunyai putra yang salah satunya bernama I Dewa Kulit. I Dewa Kulit kemudian memiliki putra bernama Dewa Lempijeh.

Dewa Lempijeh kemudian diberikan sebuah kepercayaan untuk memimpin sebuah wilayah, dimana wilayah tersebut ditumbuhi sebuah pohon manggis yang sangat besar. Konon pohon manggis tersebut tumbuh di sebelah barat balai pengobatan yang ada di Manggis saat ini.[3]

Saat Dewa Lempijeh datang, wilayah ini sudah dipimpin oleh I Gusti Nyoman Tanah Begra Jenggot Gudi Begilih. Mereka berdua pun bekerjasama untuk memerintah wilayah ini dengan satu syarat harus mempunyai Kahyangan Tiga yaitu Puseh, Dalem, dan Bale Agung.

Upacara di pura ini yang pertama pada tahun saka 1580 ini dipuput oleh Ida Pedanga Gede Nyoman Buruan dari Geriya Sibetan, Desa Sibetan. Dalam mengatur penyelenggaraan upacara, 

Ida menugaskan 25 orang atau desa selai dengan tugas mengurus dan mempersatukan Kahyangan Tiga. Dan dengan berbagai pertimbangan, Pura Puseh yang semula hanya didirikan disebelah barat SDN 1 Manggis, dipindahkan ke Bakung.[3]

Karena keberadaan pohon manggis yang besar di wilayah tersebut, orang-orang menyebut wilayah ini dengan sebutan Manggis. Karena terbiasa dengan sebutan tersebut, wilayah tersebut pun diberinama Manggis dan sampai saat ini bernama Desa Manggis.[3]

Sepeninggal I Dewa Lempijeh dan I Gusti Nyoman Tanah Jenggot Gundi Begilih, pemerintahan desa Manggis selalu dipegang oleh keturunannya. Dan saat pemerintahan keturunannya yang bernama I Dewa Anom Batuan bersama I Gusti Gede Juntal, pemimpin Desa Labuan yaitu I Gusti Labuan menyerahkan  diri serta wilayah kekuasaannya ke Manggis. 

Pada paska Kemerdekaan, Desa Manggis menjadi pusat Peperintahan yang mewilayahi empat Desa adat meliputi Desa Apit Yeh, Buitan, Yehpoh dan Manggis.

Saat ini Manggis juga menjadi pusat kecamatan yang bernama Kecamatan Manggis. Pusat Pemerintahan Kecamatan Manggis berada di Tanah Ampo. (TB) [3] 


Keberadaan desa ini telah tercatat pada peta distrik yang di buat oleh I Made Poegleg bertahun 1920 yang ditunjukkan "Aangegeven zijn de districten": Koeboe, Rendang, Selat, Manggis, Karangasem, Bebandem en Ibang., tahun 1920 yang di terbitkan oleh Universitaire Bibliotheken Leiden. [4]

Referensi
  1. Website Desa Manggis 
  2. Suta Naya Dadhap Waru , Manusia Jawa dan Tumbuhan ,  Iman Budhi Santosa
  3. Sejarah Desa Manggis, Karangasem, Bermula dari Pohon Manggis Besar, telusurbali.com, 26 November 2019
  4. Aangegeven zijn de districten: Koeboe, Rendang, Selat, Manggis, Karangasem, Bebandem en Ibang., ca. 1920, Universitaire Bibliotheken Leiden, Creator Map : Poegleg, I Made