tanm
Warta4 menit baca

Ashurbanipal, Taman Pustaka Raja Surga Pertama di Dunia

T
Tim Tanm5 Agustus 2023 · 65 dibaca

Asyurbanipal (bahasa Akadia: Aššur-bāni-apli; bahasa Aram: ܐܵܫܘܿܪ ܒܵܢܝܼ ܐܵܦܠܝܼ; "Dewa Asyur adalah pencipta ahli waris";[1]...

Asyurbanipal (bahasa Akadia: Aššur-bāni-apli; bahasa Aram: ܐܵܫܘܿܪ ܒܵܢܝܼ ܐܵܦܠܝܼ; "Dewa Asyur adalah pencipta ahli waris";[1] 685 – 627 SM), 

Sejumlah bahasa menyebutnya Ashurbanipal , Ashurbanipal, Assurbanipal atau Ashshurbanipal. Nama yang sama ini merujuk pada seorang raja Kerajaan Asyur, putra raja Esarhadon dan raja besar terakhir dari Kekaisaran Asyur Baru (668 SM – c. 627 SM)

Raja Ashurbanipal dikenal sebagai sosok petarung yang kejam, namun di sisi lain dia juga seorang tukang kebun yang handal! [2] 

Dalam dokumen yang kini tersimpan di British Museum, menunjukkan bahwa para raja Asyur menciptakan sepotong surga di bumi dengan taman-taman botani mereka yang eksotis.

Sang raja begitu membanggakan diri lewat taman yang mereka buat, setidaknya ini yang terlihat dari dalam prasasti-prasasti, yang berisi kisah mereka mengumpulkan tanaman dan hewan dari seluruh wilayah kekaisaran untuk mengisi taman kerajaan 

Taman ini ditanami beragam tumbuhan seperti pohon delima, pir, ara, dan zaitun. Tujuannya, selain upaya penyelamatan plasma nutfah, juga untuk menghijaukan kerajaan 

Untuk mewujudkan yang sangat indah ini, para penguasa menunjukkan kemampuan mereka untuk membawa kelimpahan dan keharmonisan ke dunia. Ashurbanipal mengklaim:

  • Aku tanam pohon di samping istana sebuah kebun raya, hingga di dalamnya kini terdapat semua jenis pohon dan semua jenis buah dan sayuran.

Alkisah, Sennacherib yang merupakan kakek Ashurbanipal membangun jaringan kanal yang sangat besar untuk mengaliri kebun dan ladang di Niniveh 

Sennacherib (705-681 SM) membawa air ke kota dalam jarak yang sangat jauh dengan menggunakan saluran dan saluran air untuk menciptakan oasis sepanjang tahun bagi semua jenis flora. 


Artist's impression of Assyrian palaces from The Monuments of Nineveh by Sir Austen Henry Layard, 1853

Niniveh [3] adalah tempat persimpangan jalur perniagaan yang melalui sungai Tigris. Kota purba ini menempati posisi tengah antara Laut Tengah dengan Samudra Hindia, maka kota ini menghubungkan timur dan barat.

Kota ini menjadi salah satu kota terbesar dan terkaya pada zaman purba di Mesopotamia sebab posisinya strategis bagi perdagangan; berbagai komoditas perdagangan, uang, dan kekayaan mengalir dari berbagai tempat ke Niniveh [3]

Kanal yang menuju Niniveh ini membentang lebih dari 50 km ke pegunungan, dan Sennacherib membanggakan teknologi rekayasa yang digunakannya. 

Saluran air monumental yang melintasi lembah di Jewan, yang masih bisa Anda lihat sisa-sisanya hingga kini, terbuat dari lebih dari 2 juta batu dan semen tahan air. [2]

Saluran air ini dibangun lebih dari 500 tahun sebelum bangsa Romawi mulai membangun saluran air mereka, dan bertuliskan kata-kata berikut:

  • Sennacherib, raja dunia, raja Asyur membangun kanal dengan jarak yang sangat jauh, aku mengalirkan air menuju ke Niniveh, yang menyatukan air... Di atas lembah-lembah yang curam, aku membentangkan saluran air dari balok-balok batu kapur putih, aku membuat air mengalir di atasnya.

Lanskap pemandangan dari relief istana menunjukkan saluran air di taman yang rimbun di dekat kota. Kebun buah dan taman diairi oleh beberapa saluran yang melintasi lanskap. 

Raja-raja Asyur mengisi taman buruan dan taman hiburan mereka dengan hewan-hewan, termasuk rusa, kijang, dan bahkan singa. 

Pada relief dapat dilihat seekor singa betina dan singa jantan dengan surai yang megah sedang bersantai di sebuah taman yang indah. 

Bagi bangsa Asyur, singa mewakili semua hal yang berbahaya di dunia, sehingga singa yang tenang pada relief ini mungkin menunjukkan kemampuan raja untuk mengendalikan kekuatan alam yang liar. 

Singa juga diburu di taman-taman permainan kerajaan. Raja-raja Asyur membuktikan bahwa mereka layak untuk melindungi kekaisaran dengan membunuh binatang buas yang menakutkan ini sebagai bagian dari tontonan publik yang penuh dengan drama. Perburuan singa Asyur terkenal diwakili dalam relief-relief dari istana Raja Ashurbanipal 

Taman raja-raja Asyur bukan sekadar tempat yang indah; taman-taman ini menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan perdamaian dan kemakmuran di kekaisaran. 

Salah satu adegan dari relief istana [2] menunjukkan Ashurbanipal sedang berbaring di sofa yang rumit di sebuah taman di samping ratunya. 

Para musisi menghibur pasangan kerajaan dan makanan disajikan oleh para pelayan. Latar belakang rimbunnya pohon pinus, pohon kurma dan tanaman anggur menggambarkan kesuburan dan regenerasi. 

Namun, jika diperhatikan dengan seksama, maka terlihat bahwa di salah satu pohon, tergantung sebuah piala perang - kepala musuh Ashurbanipal - sebuah pengingat bahwa surga ini diperoleh melalui perang yang panjang dan berdarah.

Beberapa ahli berpendapat bahwa Taman Gantung Babilonia yang legendaris - salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno - sebenarnya adalah Taman Gantung di Niniveh. [2]

Mereka mengklaim bahwa para penulis di kemudian hari telah mengabaikan fakta tentang Niniwe dan Babel, yang dapat membantu menjelaskan mengapa penggalian di situs Babel tidak pernah menghasilkan bukti adanya taman-taman berarsitektur yang ditinggikan di sana. [2]


The Hanging Gardens of Babylon represented in a 1572 print by Philips Galle. [2]

Gambar-gambar relief yang sekarang hilang dari Niniveh menunjukkan pepohonan yang tumbuh di barisan tiang beratap, mirip dengan yang digambarkan dalam kisah-kisah klasik tentang Taman Gantung. 

Teori para ahli juga merujuk pada kesimpulan bahwa jika Taman Gantung di Niniveh, bukan Taman Gantung yang dimaksud, maka Niniwe setidaknya menjadi taman yang mungkin telah menginspirasi taman-taman di Babilonia dan tempat lainnya di seluruh penjuru dunia

Referensi 
  1. Dictionary of the Ancient Near East, Editors Piotr Bienkowski and Alan Millard, p. 36
  2. Paradise on earth: the gardens of Ashurbanipal 
  3. "Proud Nineveh" is a constant emblem of earthly pride in the Old Testament prophecies: "And He will stretch out His hand against the north And destroy Assyria, And He will make Nineveh a desolation, Parched like the wilderness." (Zephaniah 2:13).